Kesehatan Mental Relawan: Menjaga Kesejahteraan Para Penolong
Fokus pada kesehatan mental relawan sering terabaikan dalam penanggulangan bencana. Mereka menyaksikan penderitaan, kematian, dan kehancuran secara langsung. Exposure berulang terhadap trauma dapat menyebabkan vicarious trauma. Burnout, PTSD, dan compassion fatigue adalah risiko nyata yang mereka hadapi. Menjaga kesejahteraan psikologis relawan sama pentingnya dengan misi kemanusiaan.
Tanda-tanda burnout pada relawan muda perlu dikenali sejak dini. Kelelahan fisik dan emosional yang berkepanjangan adalah sinyal peringatan. Kehilangan motivasi dan cynicism terhadap pekerjaan kemanusiaan bisa muncul. Gangguan tidur, anxiety, dan perubahan pola makan adalah manifestasi fisik. Intervensi dini dapat mencegah kondisi yang lebih serius.
Program debriefing dan counseling harus tersedia secara rutin untuk relawan. Sesi sharing setelah misi berat membantu processing pengalaman traumatis. Psikolog dan konselor terlatih harus accessible tanpa stigma. Peer support group memberikan ruang aman untuk saling menguatkan. Mental health is not a luxury, but a necessity untuk sustainability.
Self-care practices harus diajarkan dan didorong dalam komunitas relawan. Istirahat yang cukup, nutrisi yang baik, dan olahraga teratur adalah fondasi. Mindfulness, meditasi, dan journaling dapat membantu emotional regulation. Setting boundaries antara volunteer work dan personal life penting. Tidak apa-apa untuk mengatakan tidak dan mengambil break ketika dibutuhkan.
Organisasi relawan perlu memiliki kebijakan dan struktur support yang jelas. Rotasi penugasan mencegah exposure traumatic yang berlebihan. Insurance dan akses healthcare harus disediakan untuk relawan aktif. Training tentang psychological first aid bukan hanya untuk korban, tapi juga untuk diri sendiri. Investing in wellbeing relawan adalah investing in sustainability program.
Author & Editor: Nadia Anike Putri