Keberhasilan Sekolah Dasar dalam Menciptakan Budaya Sekolah yang Menghargai HAM
Keberhasilan Pendidikan HAM yang sesungguhnya tidak hanya
diukur dari nilai akademis siswa, tetapi dari sejauh mana sekolah mampu
menciptakan Budaya Sekolah yang Menghargai HAM. Dalam budaya ini, nilai-nilai
seperti inklusi, keadilan, dan partisipasi terwujud dalam semua aspek
operasional, bukan sekadar di dalam buku teks.
Penilaian Budaya HAM menggunakan kerangka yang mencakup
empat pilar: (1) Praktik Manajemen (Kepemimpinan Kepala Sekolah), (2) Kurikulum
Formal dan Tersembunyi, (3) Kualitas Hubungan Guru-Siswa dan Antar Siswa, dan
(4) Keterlibatan Komunitas. Kerangka ini memastikan evaluasi yang holistik.
Metodologi melibatkan survei iklim sekolah (school climate
survey) yang diisi oleh siswa, guru, dan orang tua. Temuan kuantitatif
menunjukkan bahwa sekolah yang memiliki kepala sekolah dengan kepemimpinan
partisipatif dan transparan memiliki skor budaya HAM yang jauh lebih tinggi.
Analisis kualitatif menyoroti praktik terbaik seperti adanya
'Dewan Siswa' yang memiliki kewenangan riil (Hak Partisipasi), penggunaan sudut
resolusi konflik yang dimediasi teman sebaya (Hak Keadilan), dan program peer
mentoring yang inklusif. Praktik-praktik ini menunjukkan internalisasi
nilai di luar pembelajaran formal.
Tantangan budaya terbesar adalah memastikan konsistensi
dalam penegakan HAM di seluruh staf. Seringkali, guru dan staf cenderung
bersikap diskriminatif secara tidak sadar (misalnya, menghukum anak yang
lambat), yang secara instan merusak upaya kurikulum formal. Pelatihan self-reflection
bagi staf sangat dibutuhkan.
Disimpulkan bahwa sekolah yang berhasil menciptakan Budaya
HAM adalah sekolah yang menganggap HAM sebagai filosofi operasional mereka.
Direkomendasikan pengembangan 'Model Sekolah Berbasis Hak' yang dapat diadopsi
secara luas di jenjang SD, yang mewajibkan seluruh staf untuk hidup sesuai
prinsip HAM.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI