JEJAK SEJARAH HARI GURU: DARI PERJUANGAN MENUJU PENGABDIAN
sumber gambar: pinterest
Hari Guru merupakan salah satu momen penting dalam kalender pendidikan Indonesia. Peringatan ini bukan sekadar rutinitas seremonial, tetapi bentuk penghormatan terhadap jasa dan peran strategis guru dalam membangun peradaban bangsa. Sejarah Hari Guru di Indonesia memiliki akar yang panjang dan tidak terlepas dari perjalanan bangsa dalam memperjuangkan pendidikan sebagai hak dasar bagi setiap warga negara.
Penetapan Hari Guru Nasional tidak terjadi begitu saja. Sejak sebelum kemerdekaan, para pendidik sudah mengadakan forum perjuangan yang dikenal sebagai Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912. Organisasi ini merupakan wadah yang memperjuangkan profesionalisme guru sekaligus hak-hak sosial mereka. Peran PGHB menjadi semakin kuat ketika Indonesia meraih kemerdekaan dan para guru ikut menyuarakan pendidikan sebagai fondasi pembangunan bangsa.
Pada 25 November 1945, para tokoh pendidik mendirikan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Momen inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Sejak saat itu, setiap tahun Indonesia memperingati Hari Guru sebagai momentum refleksi sekaligus apresiasi edukatif.
Makna Hari Guru di era modern semakin meluas. Guru tidak hanya dipandang sebagai pengajar, tetapi juga mentor, fasilitator, pembentuk karakter, dan inspirator. Perubahan zaman menuntut guru untuk beradaptasi dengan perkembangan digital dan metodologi pembelajaran yang terus berkembang, namun semangat pengabdian tetap menjadi fondasi profesionalisme mereka.
Melalui peringatan Hari Guru Nasional, masyarakat diharapkan semakin menghargai profesi guru dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan nasional. Penghormatan terhadap guru bukan hanya dilakukan pada tanggal tertentu, melainkan melalui komitmen untuk memperkuat budaya belajar sepanjang hayat. Hari Guru menjadi pengingat bahwa pendidikan bermutu lahir dari guru yang kuat, cerdas, dan berintegritas.
Author: Adinda Budi Julianti
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI