Isra’ Mi’raj: Perjalanan "Healing" Terbaik Saat Rasulullah Berada di Titik Terendah
Peristiwa Isra’ Mi’raj
seringkali hanya dilihat sebagai perjalanan fisik yang ajaib, padahal sisi
emosional di baliknya sangatlah mendalam. Sebelum peristiwa ini terjadi, Nabi
Muhammad SAW berada dalam fase yang disebut Amul Huzni atau Tahun
Kesedihan. Beliau kehilangan istri tercinta, Siti Khadijah, yang merupakan
pendukung finansial dan emosional utamanya, serta pamannya Abu Thalib,
pelindung politiknya dari tekanan kaum Quraisy. Dalam kondisi mental yang
terpukul dan penuh duka, Allah justru "mengundang" beliau melakukan
perjalanan ke langit. Ini menunjukkan bahwa ketika manusia merasa sudah tidak
punya siapa-siapa lagi di bumi, Tuhan selalu ada untuk memberikan pelukan
spiritual yang luar biasa.
Di zaman sekarang, kita
sering mendengar istilah healing untuk merujuk pada upaya penyembuhan
stres atau kesehatan mental. Namun, banyak dari kita yang salah arah dengan
mencari ketenangan melalui pelarian sementara seperti belanja berlebihan atau
sekadar liburan singkat yang justru menambah beban dompet. Isra’ Mi’raj
mengajarkan bahwa healing yang sesungguhnya adalah dengan mendekat
kepada sumber kekuatan, yaitu Sang Pencipta. Nabi tidak dibawa ke tempat wisata
di bumi, melainkan ditarik keluar dari batasan duniawi menuju Sidratul Muntaha
untuk menyadari bahwa masalah dunia ini sangatlah kecil di hadapan kebesaran
Allah.
Perjalanan dari Masjidil
Haram ke Masjidil Aqsa menunjukkan pentingnya hubungan sesama manusia dan
sejarah, sedangkan Mi’raj ke langit menunjukkan pentingnya hubungan vertikal.
Hal ini relevan dengan kita yang sering merasa hampa meski sudah sukses secara
karier. Kehampaan itu muncul karena kita hanya fokus pada "urusan
bumi" dan lupa memberikan asupan bagi jiwa kita. Nabi Muhammad SAW kembali
dari perjalanan tersebut dengan semangat baru dan visi yang lebih luas,
membuktikan bahwa spiritualitas adalah obat paling mujarab bagi jiwa yang
sedang terluka.
Salah satu poin penting
dalam perjalanan ini adalah bagaimana Nabi tetap menjaga kerendahan hatinya
meskipun telah melihat rahasia semesta yang tidak pernah dilihat manusia lain.
Ini adalah teguran bagi kita yang seringkali baru sukses sedikit saja sudah
merasa paling hebat. Kita perlu belajar bahwa setiap ujian hidup, sekecil apa
pun, adalah cara Tuhan untuk menaikkan kelas kita ke tingkat yang lebih tinggi,
asalkan kita mau bersabar dan tetap berada di jalur-Nya. Jangan pernah merasa
sendirian, karena Nabi pun pernah merasakan kesedihan yang sama dalamnya dengan
yang kita rasakan saat ini.
Terakhir, mari kita jadikan peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini sebagai momen untuk menata kembali kesehatan mental kita. Alih-alih hanya mengandalkan validasi dari media sosial yang seringkali palsu, mulailah mencari validasi dari Tuhan melalui ibadah yang lebih khusyuk. Dengan begitu, kita akan memiliki ketahanan mental yang kuat seperti Nabi. Masalah mungkin tidak langsung hilang, tetapi cara pandang kita terhadap masalah tersebut akan berubah total. Kita akan menyadari bahwa setiap kesulitan hanyalah pemberhentian singkat sebelum "perjalanan naik" yang indah dimulai.
Editor : Ihza Latifatun Ni'mah