Isra’ Mi’raj dan Refleksi Krisis Moral dalam Kehidupan Masyarakat
Peristiwa Isra’ Mi’raj
bukan sekadar kisah perjalanan spiritual Rasulullah SAW, melainkan sebuah
cermin besar bagi kondisi moral masyarakat di setiap zaman. Di tengah realitas
sosial saat ini, krisis moral sering terlihat melalui meningkatnya sikap individualisme,
lunturnya empati, serta kecenderungan manusia untuk mengutamakan kepentingan
pribadi di atas kepentingan bersama. Isra’ Mi’raj hadir sebagai pengingat bahwa
kemajuan tanpa nilai spiritual justru akan membawa manusia pada kehampaan dan
kerusakan sosial.
Rasulullah SAW menerima
perintah salat secara langsung dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, yang menandakan
bahwa pembenahan moral harus dimulai dari hubungan manusia dengan Tuhan. Ketika
hubungan spiritual terjaga, maka perilaku sosial pun akan ikut terbentuk dengan
baik. Sebaliknya, ketika nilai-nilai spiritual diabaikan, manusia cenderung
kehilangan arah dalam bersikap dan bertindak, sehingga mudah tergoda untuk
melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.
Dalam kehidupan
bermasyarakat, krisis moral sering kali tampak dalam bentuk ketidakjujuran,
ketidakadilan, dan menurunnya rasa tanggung jawab. Banyak orang merasa bebas
melakukan apa saja tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan sekitar. Isra’
Mi’raj mengajarkan bahwa setiap perbuatan manusia berada dalam pengawasan Allah
SWT dan akan dimintai pertanggungjawaban, baik di dunia maupun di akhirat.
Salat sebagai hasil utama Isra’ Mi’raj berfungsi sebagai pengendali moral yang mengingatkan manusia secara rutin akan nilai-nilai kebaikan. Jika salat dijalankan dengan kesadaran penuh, maka ia akan membentuk karakter yang jujur, disiplin, dan peduli terhadap sesama. Dengan demikian, salat tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi, tetapi juga pada tatanan sosial.Melalui pemaknaan Isra’ Mi’raj, masyarakat diharapkan mampu menjadikan nilai spiritual sebagai landasan utama dalam memperbaiki krisis moral, sehingga kehidupan sosial dapat berjalan lebih adil, harmonis, dan bermartabat.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah