Isra’ Mi’raj dan Pentingnya "Jeda" Sejenak dari Rutinitas yang Menyesakkan
Kehidupan kampus
seringkali menuntut kita untuk selalu aktif, produktif, dan serba cepat. Kita
dipaksa untuk mengikuti arus informasi yang tidak ada habisnya di media sosial,
mengikuti perdebatan yang terkadang tidak substansial, hingga terjebak dalam budaya
hustle culture yang memuja kelelahan. Dalam konteks ini, peristiwa Isra’
Mi’raj hadir sebagai pengingat akan pentingnya mengambil jeda atau detox
dari kebisingan dunia. Perjalanan malam Nabi Muhammad SAW adalah sebuah bentuk
kontemplasi tingkat tinggi, di mana beliau ditarik dari keramaian Mekah menuju
ketenangan Baitul Maqdis dan ketinggian langit untuk melihat realitas yang
lebih luas.
Bagi mahasiswa, mengambil
jeda bukan berarti berhenti berjuang atau bermalas-malasan. Sebaliknya, jeda
adalah bagian dari strategi untuk melompat lebih jauh. Terkadang, kita terlalu
fokus pada detail-detail kecil yang membuat kita stres, seperti nilai yang
turun atau konflik di organisasi, sehingga kita lupa melihat gambaran besarnya.
Isra’ Mi’raj mengajarkan kita untuk sesekali menarik diri, merenungkan tujuan
hidup, dan menyelaraskan kembali niat kita. Tanpa adanya momen jeda dan
kontemplasi, kita hanya akan menjadi mesin yang bergerak tanpa arah, mudah
rusak oleh tekanan, dan kehilangan makna dalam setiap pencapaian.
Pelajaran ini sangat
relevan di tengah maraknya masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa.
Banyak dari kita yang merasa hampa meskipun secara akademik terlihat sukses.
Kehampaan itu seringkali muncul karena kita tidak pernah memberikan waktu bagi
jiwa untuk "bernapas". Perjalanan spiritual Nabi adalah bukti bahwa
bahkan seorang Rasul pun membutuhkan penguatan spiritual dan momen refleksi
sebelum menghadapi tantangan besar berikutnya. Kita perlu menciptakan
"Isra’ Mi’raj kecil" dalam hidup kita, entah itu melalui salat yang
khusyuk, membaca Al-Qur'an dengan tadabur, atau sekadar merenung di tengah
keheningan malam tanpa gangguan ponsel.
Selain itu, momen jeda
ini juga penting untuk menjaga kejernihan berpikir kritis. Sebagai mahasiswa
yang dianggap sebagai agen perubahan, kita tidak boleh hanya sekadar
ikut-ikutan tren yang viral tanpa tahu landasan moralnya. Dengan sering
melakukan refleksi spiritual, kita akan memiliki standar nilai yang kokoh. Kita
tidak akan mudah terprovokasi oleh narasi-narasi kebencian atau polarisasi yang
sering terjadi di jagat digital. Kejernihan hati yang didapat dari kedekatan
dengan Tuhan akan melahirkan pemikiran-pemikiran yang solutif bagi permasalahan
masyarakat di sekitar kita.
Singkatnya, mari kita
jadikan peringatan Isra’ Mi’raj sebagai momentum untuk mengevaluasi ritme hidup
kita. Jangan biarkan diri kita tenggelam dalam rutinitas yang menyesakkan
hingga melupakan hak jiwa untuk beristirahat. Luangkan waktu untuk bersujud lebih
lama, berbincang dengan Tuhan lebih dalam, dan biarkan hati kita kembali
tenang. Dunia mungkin akan terus berputar dengan kecepatannya yang gila, namun
dengan spiritualitas yang terjaga, kita akan tetap memiliki ketenangan di
tengah badai. Ingatlah, bahwa perjalanan yang paling jauh sekalipun harus
dimulai dengan hati yang damai.