Isra’ Mi’raj dan Pelajaran tentang Mengelola Kekecewaan
Kekecewaan merupakan
pengalaman manusiawi yang hampir tidak bisa dihindari, terutama ketika harapan
yang dibangun dengan sungguh-sungguh tidak berujung pada hasil yang diinginkan.
Dalam dunia modern, kekecewaan sering diperparah oleh ekspektasi berlebih yang
dibentuk oleh media sosial, di mana kehidupan orang lain tampak selalu berjalan
sesuai rencana. Isra’ Mi’raj hadir sebagai peristiwa yang mengajarkan cara
memandang kekecewaan secara lebih dewasa dan bermakna.
Sebelum Isra’ Mi’raj
terjadi, Nabi Muhammad SAW berada dalam fase kehidupan yang penuh luka,
kehilangan, dan penolakan. Namun, kekecewaan tersebut tidak berubah menjadi
kepahitan, melainkan menjadi ruang pendewasaan spiritual. Hal ini menunjukkan
bahwa kekecewaan tidak selalu harus dihindari, karena justru di sanalah
seseorang belajar memahami batas dirinya dan memperdalam relasinya dengan
Tuhan.
Dalam kehidupan
sehari-hari, banyak orang terjebak pada sikap menyalahkan diri sendiri atau
keadaan ketika harapan tidak tercapai. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa kegagalan
bukanlah tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari proses penataan ulang arah
hidup. Perspektif ini membantu seseorang untuk tidak larut dalam frustrasi yang
melemahkan.
Dengan membaca Isra’
Mi’raj sebagai refleksi pengelolaan kekecewaan, manusia diajak untuk mengubah
luka menjadi sumber kebijaksanaan, bukan menjadi alasan untuk menyerah atau
kehilangan kepercayaan pada kehidupan.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah