Isra’ Mi’raj dan Makna Keikhlasan dalam Menjalani Kehidupan
Keikhlasan merupakan
salah satu nilai paling sulit diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama
di tengah budaya yang mengedepankan pengakuan dan pencitraan. Banyak orang
melakukan kebaikan dengan harapan mendapat pujian atau balasan tertentu. Isra’ Mi’raj
mengajarkan bahwa keikhlasan sejati lahir dari kesadaran bahwa segala sesuatu
dilakukan semata-mata karena Allah SWT.
Perjalanan Rasulullah SAW
dalam peristiwa Isra’ Mi’raj menunjukkan bahwa ibadah bukanlah sarana untuk
menunjukkan kelebihan diri, melainkan bentuk ketaatan dan ketundukan kepada
Allah SWT. Rasulullah SAW menerima perintah salat bukan untuk kepentingan pribadi,
tetapi sebagai amanah besar bagi umat manusia. Sikap ini mencerminkan
keikhlasan yang murni dalam menjalankan perintah Tuhan.
Dalam kehidupan
bermasyarakat, kurangnya keikhlasan sering memicu konflik dan kekecewaan.
Ketika seseorang merasa jasanya tidak dihargai, ia mudah marah dan kehilangan
semangat. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan
ikhlas tidak akan pernah sia-sia, meskipun tidak selalu mendapatkan pengakuan
dari manusia.
Salat melatih keikhlasan
melalui rutinitas yang dilakukan tanpa pamrih. Dalam salat, manusia berdiri,
rukuk, dan sujud tanpa disaksikan oleh banyak orang, tetapi dengan keyakinan
bahwa Allah SWT selalu hadir. Proses ini membentuk kesadaran bahwa yang terpenting
bukanlah penilaian manusia, melainkan ridha Allah.
Dengan meneladani pesan
Isra’ Mi’raj, manusia diajak untuk menjalani hidup dengan keikhlasan, sehingga
setiap langkah yang diambil terasa lebih ringan, penuh makna, dan membawa
ketenangan batin.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah