Isra’ Mi’raj dan Kesadaran Mahasiswa tentang Makna Perjalanan Hidup
Isra’ Mi’raj bukan hanya
kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu
naik ke Sidratul Muntaha. Di balik peristiwa besar itu, tersimpan makna
mendalam tentang perjalanan hidup manusia yang penuh proses, tantangan, dan
ujian. Bagi mahasiswa, Isra’ Mi’raj dapat menjadi cermin untuk memahami bahwa
hidup tidak berjalan secara instan, tetapi membutuhkan tahapan, kesabaran, dan
keyakinan yang kuat.
Dalam dunia perkuliahan,
mahasiswa sering dihadapkan pada tekanan akademik, tuntutan sosial, dan
kebingungan menentukan arah masa depan. Kisah Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa
setiap perjalanan besar selalu diawali dengan kesiapan mental dan spiritual.
Nabi Muhammad SAW menjalani perjalanan luar biasa itu setelah melewati masa
kesedihan dan ujian berat, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzni. Hal ini relevan
dengan kondisi mahasiswa yang kerap merasa terpuruk ketika gagal atau mengalami
tekanan.
Makna penting lainnya
adalah keberanian untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Isra’ Mi’raj
merupakan perjalanan yang melampaui logika manusia pada zamannya. Mahasiswa pun
dituntut berani bermimpi, berani mencoba hal baru, dan tidak takut menghadapi
ketidakpastian, selama tetap berpegang pada nilai-nilai moral dan keimanan.
Melalui refleksi Isra’
Mi’raj, mahasiswa diajak memahami bahwa setiap proses hidup memiliki tujuan.
Kesuksesan akademik bukan hanya soal nilai, tetapi tentang pembentukan
karakter: kejujuran, tanggung jawab, dan ketekunan. Dengan kesadaran ini,
mahasiswa dapat menjalani perjalanan studinya dengan lebih bermakna dan
terarah.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah