Isra’ Mi’raj dan Kekuatan Kesabaran dalam Proses Perubahan
Kesabaran sering
dipandang remeh di dunia yang menuntut instan dan cepat. Viralitas media sosial
membuat banyak orang ingin segala sesuatu terjadi seketika—likes, followers,
karier, bahkan perubahan diri. Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa proses
perubahan, baik spiritual maupun personal, membutuhkan kesabaran yang kokoh,
karena pertumbuhan sejati jarang datang secara tiba-tiba.
Perjalanan Nabi Muhammad
SAW dalam Isra’ Mi’raj terjadi setelah fase hidup yang penuh ujian, kehilangan,
dan tekanan sosial. Kesabaran beliau menjadi kunci agar peristiwa luar biasa
itu dapat diterima dan memberi dampak luas. Hal ini mengajarkan bahwa kesabaran
bukan sekadar menunggu, tetapi kemampuan untuk tetap teguh sambil bertindak
bijak dalam menghadapi ujian.
Dalam kehidupan
sehari-hari, banyak orang mudah frustasi ketika hasil tidak secepat harapan,
terutama dalam konteks pendidikan, pekerjaan, atau relasi sosial. Isra’ Mi’raj
mengajarkan bahwa kesabaran menjadi modal utama agar proses panjang itu tidak
berujung pada putus asa, dan justru memperkuat karakter manusia.
Refleksi ini menegaskan
bahwa kesabaran bukan pasif, tetapi aktif menjaga integritas dan ketenangan
batin, sekaligus menyiapkan manusia untuk menyambut fase kehidupan yang lebih
tinggi.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah