Integrasi Pendidikan HAM Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler di Sekolah Dasar
Kegiatan Ekstrakurikuler (Ekskul) menawarkan ruang yang
fleksibel dan bebas dari tekanan formal, menjadikannya sarana ideal untuk
menanamkan nilai-nilai HAM melalui aksi nyata dan kolaborasi, menjembatani
kesenjangan antara teori kurikulum dan praktik kehidupan sehari-hari.
Fokus integrasi dan metodologi adalah analisis konten dan
praktik dari ekskul populer di SD, seperti Pramuka, Klub Lingkungan Hidup, dan
Klub Jurnalistik/Mading. Diidentifikasi bagaimana setiap ekskul secara implisit
atau eksplisit memuat nilai-nilai Hak Partisipasi, Hak Perlindungan, dan Hak
atas Lingkungan Sehat.
Muatan HAM dalam Ekskul terlihat jelas: Pramuka mengajarkan
tanggung jawab sosial dan Hak Perlindungan melalui kegiatan survival dan
pelayanan. Klub Lingkungan secara langsung mengaplikasikan Hak atas Lingkungan
Sehat melalui proyek kebersihan. Klub Jurnalistik/Mading mempraktikkan Hak
Berekspresi dan Hak Mendapatkan Informasi.
Keunggulan Ekskul adalah bahwa pembelajaran terjadi secara
alami, didorong oleh minat siswa, dan berbasis tim. Ini meningkatkan motivasi
penerapan nilai-nilai HAM karena siswa menginternalisasi nilai tersebut bukan
karena tuntutan, melainkan karena kebutuhan untuk mencapai tujuan kelompok.
Tantangan dan keterbatasan mencakup kurangnya kesadaran HAM
dari pembina ekskul yang seringkali merupakan pihak non-guru atau sukarelawan.
Selain itu, tidak semua siswa memiliki akses yang sama ke ekskul yang relevan,
menciptakan ketidaksetaraan dalam kesempatan belajar HAM.
Rekomendasi Modul Ekskul adalah mengembangkan modul
pelatihan khusus bagi para pembina, memastikan bahwa setiap kegiatan ekskul
dirancang dengan kerangka berpikir berbasis hak. Modul tersebut harus mendorong
pembina untuk melihat peran mereka sebagai fasilitator HAM.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI