Inovasi Kurikulum Darurat: Menyiapkan Siswa SD Menghadapi Erupsi Gunung Api
Indonesia memiliki jumlah gunung api aktif terbanyak di dunia, sehingga inovasi kurikulum darurat menjadi instrumen vital bagi sekolah-sekolah yang berada di kawasan rawan bencana (KRB). Kurikulum darurat bukan berarti menurunkan standar kualitas pendidikan, melainkan menyesuaikan prioritas materi agar relevan dengan situasi krisis yang mungkin dihadapi siswa. Inovasi ini mencakup penyusunan modul mandiri yang dapat diakses siswa saat sekolah harus ditutup sementara akibat aktivitas vulkanik yang meningkat. Materi tentang bahaya abu vulkanik, aliran piroklastik, hingga penggunaan masker yang benar harus menjadi bagian integral dari modul tersebut. Kesiapan kurikulum ini memastikan bahwa hak pendidikan anak tetap terpenuhi meskipun mereka berada di dalam pengungsian.
Dalam kondisi darurat, pendekatan pembelajaran harus lebih fleksibel dan menekankan pada ketahanan mental serta dukungan psikososial bagi siswa. Inovasi kurikulum harus mencakup prosedur operasional standar (SOP) yang jelas tentang kapan kegiatan belajar mengajar harus berpindah ke lokasi aman. Guru perlu dilatih untuk mampu mengajar dalam kondisi terbatas dan memiliki keterampilan dasar trauma healing untuk mendampingi siswa yang terdampak erupsi. Selain itu, kurikulum darurat harus memanfaatkan teknologi pembelajaran jarak jauh yang ringan data agar tetap bisa dijangkau oleh siswa di daerah terpencil. Fleksibilitas ini adalah kunci agar proses belajar tidak terputus total saat bencana alam yang berkepanjangan terjadi.
Pakar mitigasi gunung api, Surono (Mbah Rono), sering berpesan, "Berhenti melawan alam, mulailah beradaptasi dengan perilakunya melalui pengetahuan yang tepat." Pesan ini menjadi landasan kuat bagi pengembangan kurikulum darurat yang berbasis pada kearifan lokal dan data saintifik yang akurat. Siswa diajarkan untuk membaca tanda-tanda alam yang diberikan oleh gunung api sebagai bentuk peringatan dini tradisional yang dipadukan dengan data teknologi. Pemahaman tentang status level gunung api (Normal, Waspada, Siaga, Awas) harus dikuasai oleh siswa di daerah rawan agar mereka tahu kapan harus mulai berkemas. Inovasi ini menciptakan generasi yang harmonis dengan lingkungan vulkanik mereka, menganggap gunung sebagai sahabat sekaligus ancaman yang harus diwaspadai.
Aspek lain yang tidak kalah penting dalam inovasi kurikulum ini adalah pelibatan komunitas lokal dalam penyusunan materi ajar agar sesuai dengan konteks daerah masing-masing. Setiap gunung api memiliki karakteristik letusan yang berbeda, sehingga mitigasi untuk Gunung Merapi tentu berbeda dengan mitigasi untuk Gunung Agung atau Sinabung. Kurikulum darurat harus mampu memotret keunikan risiko tersebut dan menyajikannya dalam bentuk langkah praktis bagi siswa sekolah dasar. Penekanan pada jalur evakuasi yang spesifik di lingkungan sekolah dan desa mereka akan membuat pembelajaran terasa sangat nyata dan mendesak. Sinergi antara ilmu pengetahuan geologi dan kebijakan pendidikan ini akan memperkuat daya lenting sekolah dalam menghadapi krisis.
Secara keseluruhan, inovasi kurikulum darurat menghadapi erupsi gunung api adalah bentuk nyata dari sekolah yang tangguh dan adaptif. Keberhasilan inovasi ini tidak hanya dilihat dari kelangsungan nilai akademis siswa, tetapi dari keselamatan dan kesejahteraan mereka selama masa bencana. Pendidik harus terus berinovasi dalam mencari cara agar pembelajaran tetap menyenangkan dan menenangkan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian. Dengan persiapan yang matang melalui kurikulum yang inovatif, erupsi gunung api tidak akan lagi menjadi penghalang bagi masa depan anak-anak bangsa. Mari kita terus bergerak maju, memastikan pendidikan tetap tegak berdiri meski di bawah bayang-bayang api dan abu.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita