Identifikasi Kesenjangan (Gap Analysis) antara Kurikulum Ideal dan Implementasi HAM di SD
Untuk mengukur efektivitas kebijakan, diperlukan Gap
Analysis yang membandingkan Kurikulum Ideal (sebagaimana digariskan dalam
dokumen resmi dan standar internasional HAM) dengan Implementasi HAM di
lapangan (apa yang sebenarnya terjadi di kelas dan lingkungan sekolah).
Kesenjangan ini menunjukkan di mana kegagalan implementasi terjadi.
Metodologi Gap Analysis yang digunakan adalah pendekatan
campuran. Kurikulum Ideal diukur melalui analisis dokumen KHA dan Kurikulum
Nasional, sementara Implementasi diukur melalui observasi kelas, wawancara
dengan guru dan siswa, serta analisis artefak pembelajaran di sekolah.
Kesenjangan Konseptual terlihat ketika guru hanya menguasai
konsep HAM yang sudah akrab, tetapi gagal mengajarkan konsep yang lebih
kompleks seperti Hak Partisipasi atau Hak atas Kebersihan. Ini menunjukkan
bahwa pelatihan guru belum berhasil mentransfer kerangka HAM universal ke dalam
pemahaman praktik.
Kesenjangan Pedagogis adalah yang paling sering ditemukan:
kurikulum merekomendasikan metode aktif, dialogis, dan partisipatif, tetapi
banyak guru masih mengandalkan metode ceramah dan penugasan individual. Hal ini
menghilangkan kesempatan siswa untuk melatih keterampilan sosial-moral yang
merupakan inti HAM.
Kesenjangan Lingkungan Sekolah terjadi ketika Kurikulum
Ideal menjanjikan lingkungan yang adil dan non-diskriminatif, tetapi siswa
masih mengalami bullying atau sanksi disiplin yang bersifat hukuman
fisik/verbal. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa aturan formal sekolah belum
sepenuhnya berorientasi pada hak anak.
Strategi pengisian Gap harus bersifat multi-level. Pada
tingkat guru, diperlukan pelatihan intensif pedagogi HAM. Pada tingkat sekolah,
diperlukan pengawasan kepala sekolah yang ketat untuk memastikan konsistensi
antara aturan formal dan praktik sehari-hari.
Author:
Firstlyta Bulan Aulya Ahmad
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI