Hari Guru Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Mental Pendidik
Peringatan Hari Guru 2025 menjadi momentum penting untuk kembali menyoroti isu kesehatan mental pendidik yang semakin mendapat perhatian serius. Di banyak daerah, guru mengungkapkan bahwa tekanan kerja, beban administrasi, serta tuntutan profesional yang terus meningkat membuat mereka rentan mengalami stres berkepanjangan. “Guru sering diminta kuat terus, padahal mereka manusia juga. Hari Guru tahun ini mengingatkan kita bahwa kesehatan mental pendidik harus diberi ruang,” ungkap perwakilan komunitas guru dalam diskusi nasional.
Kondisi ini diperkuat oleh fakta lapangan bahwa banyak guru bekerja melebihi jam mengajar karena tanggung jawab administratif dan kebutuhan sekolah yang terus bertambah. Beberapa guru juga mengaku merasa kesepian secara emosional karena minimnya dukungan psikologis di lingkungan kerja. Tanpa dukungan kesehatan mental yang memadai, kualitas pengajaran dan hubungan guru-siswa bisa terpengaruh secara signifikan.
Dari Swedia, psikolog pendidikan Prof. Emilia Storstrand (2024) menjelaskan bahwa kesehatan mental guru adalah faktor penentu iklim kelas yang positif. “Guru yang kelelahan secara emosional akan lebih sulit menunjukkan empati dan konsistensi dalam mengajar. Pendidikan yang kuat hanya bisa lahir dari pendidik yang merasa aman dan dihargai,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya school well-being program sebagai bagian kebijakan nasional.
Sementara itu, pakar kesejahteraan kerja dari Italia, Dr. Marco Bellini (2023), menambahkan bahwa dukungan struktural sangat diperlukan agar guru tidak bekerja dalam tekanan berkepanjangan. “Negara perlu menyediakan layanan konseling profesional bagi pendidik serta mengurangi beban administratif yang tidak relevan. Kesehatan mental bukan urusan individu, tetapi sistem,” katanya. Ia juga mendorong adanya pelatihan manajemen stres dan kelompok refleksi guru sebagai dukungan berkelanjutan.
Peringatan Hari Guru 2025 menjadi pengingat bahwa kesejahteraan guru bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga keseimbangan emosional. Para pendidik berharap pemerintah, sekolah, dan masyarakat lebih memahami pentingnya kesehatan mental dalam profesi mengajar. Dengan pendidik yang sehat secara psikologis, proses pembelajaran akan menjadi lebih hangat, produktif, dan bermakna bagi seluruh peserta didik.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI