Hari Guru Soroti Kebutuhan Guru Baru di Daerah 3T
Peringatan Hari Guru tahun ini kembali menyoroti persoalan mendesak yang belum terselesaikan: minimnya jumlah guru baru di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Banyak sekolah di wilayah tersebut masih mengalami kekurangan tenaga pendidik, sehingga proses pembelajaran berjalan tidak optimal. Guru-guru yang ada pun sering merangkap mengajar berbagai mata pelajaran di luar keahlian mereka karena keterbatasan sumber daya.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pendidikan yang diterima siswa di daerah 3T. Ketimpangan layanan pendidikan semakin terasa ketika dibandingkan dengan sekolah di perkotaan yang relatif lebih lengkap dari segi tenaga pendidik maupun fasilitas. Prof. Michael Fullan (2025) dari University of Toronto menegaskan bahwa “ketidakmerataan distribusi guru adalah akar ketimpangan kualitas pendidikan; negara harus memastikan semua wilayah mendapatkan hak pendidikan yang sama.” Pendapat ini sejalan dengan kekhawatiran para pendidik di lapangan.
Selain minimnya guru baru, masalah kesejahteraan dan aksesibilitas juga menjadi tantangan besar. Banyak guru enggan ditempatkan di daerah 3T karena medan yang sulit, biaya hidup yang tinggi, dan terbatasnya dukungan kesejahteraan. Dr. Karen Edge (2025) dari University College London menambahkan bahwa “pendistribusian guru akan efektif hanya jika diiringi insentif yang memadai serta jaminan keamanan dan kesejahteraan mereka.” Tanpa komitmen serius, pemerataan tenaga pendidik akan sulit tercapai.
Guru-guru yang bertugas di 3T berharap adanya kebijakan yang lebih kuat dan berkelanjutan, bukan sekadar program rekrutmen sementara. Pelatihan, pendampingan, dan fasilitas penunjang juga diperlukan agar guru baru bisa beradaptasi dengan karakteristik daerah tersebut. Banyak sekolah di wilayah 3T membutuhkan dukungan intensif, terutama untuk penguatan literasi, numerasi, dan pembelajaran dasar.
Pada momentum Hari Guru ini, para pendidik menyerukan agar isu distribusi guru di daerah 3T menjadi prioritas nasional. Dengan menghadirkan lebih banyak guru berkualitas, memberikan dukungan kesejahteraan, serta memperbaiki infrastruktur pendidikan, kualitas pembelajaran di daerah 3T dapat meningkat secara signifikan. Harapannya, tidak ada lagi anak Indonesia yang tertinggal hanya karena lokasi tempat tinggalnya.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI