Guru Serukan Pemanfaatan Data untuk Pembelajaran
Peringatan Hari Guru 2025 menjadi momentum penting bagi para pendidik untuk mendorong pemanfaatan data secara lebih optimal dalam proses pembelajaran. Guru dari berbagai daerah menilai bahwa data baik terkait perkembangan akademik, kehadiran, minat belajar, maupun karakter siswa belum sepenuhnya digunakan sebagai dasar dalam merancang strategi mengajar. Padahal, pembelajaran berbasis data dapat membantu guru mengenali kebutuhan individual siswa dan menciptakan pendekatan yang lebih tepat sasaran.
Para pendidik menyampaikan bahwa selama ini data siswa memang dikumpulkan, namun sering kali hanya menjadi arsip administratif. Banyak guru berharap sistem pengolahan data dapat dibuat lebih sederhana, otomatis, dan mudah diakses, sehingga mereka dapat menggunakannya untuk membuat keputusan pembelajaran sehari-hari. Misal data kemampuan literasi dapat membantu guru merancang diferensiasi tugas, sementara data kecenderungan minat dapat mendorong guru mengembangkan metode belajar yang lebih menarik dan personal.
Menurut Prof. Lena Vortmann (2025) dari University of Amsterdam, Belanda, pemanfaatan data dalam pendidikan adalah kunci transformasi sekolah modern. Ia menjelaskan bahwa data yang terorganisir dan dianalisis dengan baik memungkinkan guru mengidentifikasi pola belajar, memprediksi risiko ketertinggalan, dan merancang intervensi yang lebih efektif. Vortmann menekankan bahwa negara-negara dengan kualitas pendidikan maju biasanya memiliki budaya evidence-based teaching yang kuat di tingkat sekolah.
Sementara itu, Dr. Marcin Kowalski (2025) dari Jagiellonian University, Polandia, menyebut bahwa tantangan utama dalam pemanfaatan data bukan pada ketersediaannya, tetapi pada literasi guru dalam menginterpretasikannya. Ia menilai penting adanya pelatihan khusus untuk membantu guru mengolah data sederhana, memahami grafik perkembangan siswa, serta menggunakan temuan tersebut untuk perbaikan pembelajaran. “Data tidak akan bermakna tanpa kemampuan memahami dan mengambil keputusan darinya,” tegas Kowalski.
Di Indonesia, dorongan pemanfaatan data ini disambut positif oleh guru, terutama dengan hadirnya platform digital yang mulai menyediakan fitur pemetaan kemampuan siswa secara otomatis. Namun, guru menilai bahwa pemerataan akses teknologi masih perlu diperkuat agar semua sekolah, termasuk di daerah 3T, dapat ikut memanfaatkan pembelajaran berbasis data. Selain itu, perlindungan data pribadi siswa juga menjadi perhatian, sehingga diperlukan pedoman yang jelas untuk memastikan keamanan dan etika penggunaannya.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI