Guru Sebagai Pendidik Literasi Kesehatan yang Berkeadilan
Sumber Gambar. https://sdn02.bimakota.sch.id
Guru
berperan penting dalam meningkatkan literasi kesehatan siswa. Tanpa literasi
kesehatan, stigma terhadap ODHA mudah berkembang. Informasi yang benar membantu
siswa membuat sikap yang adil. Hal ini memperkuat budaya sekolah yang inklusif.
Penyampaian
materi kesehatan harus sistematis dan menyeluruh. Guru dapat memanfaatkan media
visual agar siswa lebih memahami konsep. Contoh konkret membantu siswa
mengingat materi lebih baik. Metode ini menjadikan pembelajaran lebih menarik.
Guru
perlu menyampaikan bahwa ODHA dapat hidup normal dengan pengobatan tepat.
Informasi tentang terapi ARV dapat menumbuhkan empati. Siswa belajar bahwa ODHA
tidak perlu ditakuti. Pengetahuan ini menjadi alat melawan mitos.
Edukasi
kesehatan harus terintegrasi dalam berbagai mata pelajaran. Tidak hanya IPA,
tetapi juga PPKn dan Bahasa Indonesia. Guru bisa memasukkan tema inklusivitas
dalam teks bacaan atau tugas analisis. Cara ini membuat siswa menginternalisasi
nilai inklusif.
Kegiatan
diskusi menjadi sarana siswa bertukar perspektif. Guru mendorong siswa
menyampaikan pendapat dengan sopan. Perbedaan pendapat pun dihargai sebagai
proses belajar. Diskusi yang sehat memperkaya pemahaman siswa.
Guru
dapat menyelenggarakan seminar kecil dengan narasumber kesehatan. Kegiatan ini
memberikan pengalaman belajar langsung. Siswa lebih percaya pada informasi dari
ahli. Materi yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami.
Literasi
kesehatan juga harus diterapkan melalui budaya sekolah. Poster edukatif dapat
ditempel di berbagai sudut sekolah. Pesan visual membantu siswa mengingat
informasi penting. Budaya ini memperkuat nilai anti-stigma.
Dengan
peran aktif guru, literasi kesehatan menjadi gerakan bersama. Siswa lebih
kritis dalam menerima informasi. Sikap inklusif tumbuh seiring meningkatnya
pengetahuan. Sekolah pun menjadi ruang yang ramah bagi ODHA.
Author
: Naela Zulianti Ashlah
Editor : Naela Zulianti Ashlah