Guru SD di Yogyakarta Ikuti Pelatihan Kurikulum HIV/AIDS
Ratusan guru SD di Yogyakarta mengikuti pelatihan kurikulum berbasis kesadaran HIV/AIDS. Pelatihan ini digelar untuk mempersiapkan guru sebelum penerapan di sekolah. Kegiatan berlangsung selama dua hari dengan materi intensif. Guru menerima modul lengkap berisi strategi pembelajaran. Banyak guru menyatakan antusiasme mengikuti program. Mereka berharap dapat mengajarkan kesehatan secara lebih tepat.
Pelatihan menghadirkan tenaga ahli kesehatan dan psikologi anak. Narasumber memberikan penjelasan sederhana tentang HIV/AIDS. Mereka juga mengajarkan cara menjawab pertanyaan sensitif dari siswa. Guru dilatih untuk menghindari istilah teknis yang membingungkan. Simulasi pembelajaran dilakukan agar guru siap di kelas. Suasana pelatihan berlangsung interaktif.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya menghilangkan stigma. Guru diajak memahami bahwa stigma dapat memicu diskriminasi. Setiap guru diminta menanamkan nilai kesetaraan dalam kelas. Program pelatihan memberikan contoh konkret untuk diterapkan. Diskusi kelompok memperkuat pemahaman peserta. Guru merasa mendapatkan wawasan baru.
Yogyakarta menjadi salah satu daerah percontohan nasional. Pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap program ini. Kepala dinas menyatakan bahwa pendidikan kesehatan harus dimulai dari jenjang terendah. Mereka berharap murid memiliki kesadaran lebih baik tentang hidup bersih. Program ini juga sejalan dengan kebijakan sekolah sehat. Sinergi pemerintah dan sekolah dinilai sangat kuat.
Pelatihan juga membahas penggunaan media pembelajaran. Guru diajari membuat poster, kartu gambar, dan video pendek. Media digunakan untuk membantu menyampaikan pesan kesehatan. Setiap guru diminta membuat rencana pelaksanaan pembelajaran. Hasil karya guru akan dinilai untuk pengembangan kurikulum. Kreativitas guru menjadi modal penting.
Setelah pelatihan, guru akan melakukan praktik mengajar di sekolah masing-masing. Pemerintah akan mengirim tim pemantau untuk melihat efektivitas. Hasil pemantauan menjadi dasar perbaikan modul. Guru mengaku siap mengimplementasikan materi kepada siswa. Program ini diharapkan memberi dampak jangka panjang. Pemerintah yakin Yogyakarta dapat menjadi pelopor pendidikan kesehatan anak.
Author: Arika Rahmania
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI