Guru Pembentuk Karakter Antikorupsi pada Generasi Z
Generasi Z tumbuh di era digital yang serba cepat,
terbuka, dan penuh informasi. Mereka menyaksikan kasus-kasus korupsi melalui
media sosial, berita online, maupun platform video. Situasi ini menuntut
pendidikan antikorupsi yang lebih kuat, relevan, dan dekat dengan kehidupan
mereka. Guru memegang peranan penting untuk memberikan fondasi moral yang
kokoh, sekaligus menjadi kompas etika di tengah derasnya informasi yang mereka
konsumsi setiap hari.
Guru menjadi figur sentral dalam pembentukan karakter
Generasi Z karena keteladanan memiliki pengaruh jauh lebih kuat daripada teori.
Hal ini ditegaskan oleh Prof. Larry Nucci (University of California, Berkeley)
yang menyatakan: “Children and adolescents learn moral behavior primarily by
observing the behavior of significant adults around them.” Artinya, perilaku
guru yang jujur, konsisten, adil, dan transparan adalah model nyata yang akan
diikuti siswa. Generasi Z, yang sangat kritis terhadap ketidakselarasan antara
ucapan dan tindakan, membutuhkan role model yang autentik seperti ini.
Dalam proses pembelajaran, guru harus menyajikan
pendekatan antikorupsi yang relevan dengan dunia sosial Generasi Z. Ini
diperkuat oleh pendapat Thomas Lickona, pakar pendidikan karakter Amerika
Serikat, yang menyatakan: “Good character
education helps young people know the good, love the good, and do the good.”
Oleh karena itu, guru perlu menghadirkan pembelajaran berbasis kasus nyata,
diskusi berita aktual, serta proyek kolaboratif yang menanamkan nilai
integritas melalui pengalaman langsung. Pendekatan ini membuat siswa tidak
hanya memahami konsep tetapi juga menginternalisasikannya.
Selain itu, guru perlu menciptakan budaya kelas yang
mendukung kejujuran dan tanggung jawab. Lingkungan belajar yang demokratis,
terbuka, dan menghargai partisipasi siswa sangat cocok untuk karakter Generasi
Z. Pendapat ini sejalan dengan gagasan Howard Gardner (Harvard University) yang
menyebutkan: “Ethical classrooms are
those where fairness, responsibility, and respect are practiced daily.”
Dengan menghadirkan budaya kelas seperti ini, sekolah menjadi ruang yang aman
dan mendidik anak untuk bersikap jujur tanpa rasa takut.
Pada akhirnya, guru adalah pilar utama dalam membentuk
generasi antikorupsi. Dengan keteladanan yang kuat, metode pembelajaran yang
sesuai karakter digital native, serta lingkungan kelas yang adil dan
transparan, guru dapat menanamkan nilai integritas dalam diri Generasi Z. Di
tengah tantangan moral modern, guru berperan memastikan masa depan bangsa diisi
oleh generasi yang lebih jujur, kritis, dan berintegritas tinggi.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI