Guru Minta Pemerataan Kualitas Pelatihan Nasional
Peringatan Hari Guru 2025 kembali memunculkan aspirasi penting dari para pendidik di seluruh Indonesia: pemerataan kualitas pelatihan nasional. Selama ini, guru di daerah perkotaan lebih mudah mengakses pelatihan berkualitas tinggi yang disertai mentor profesional dan materi mutakhir. Sebaliknya, guru di daerah terpencil sering kali menerima pelatihan dengan fasilitas terbatas atau materi yang kurang relevan dengan kebutuhan kelas. Ketimpangan ini menimbulkan kesenjangan kompetensi yang signifikan antarwilayah.
Menurut Prof. Claudia Weber (2025) dari University of Hamburg, Jerman, standar pelatihan guru harus merata untuk memastikan kualitas pendidikan yang adil di seluruh negeri. Ia menegaskan bahwa guru yang mendapatkan pelatihan berkualitas cenderung lebih percaya diri, lebih inovatif, dan mampu menerapkan pendekatan pembelajaran yang efektif. Weber menilai pemerataan pelatihan adalah fondasi penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang kuat dan berkelanjutan.
Hal ini diperkuat oleh pendapat Dr. Henrik Wallström (2025) dari University of Helsinki, Finlandia, yang menyebut bahwa pelatihan guru idealnya berbasis riset terbaru dan disesuaikan dengan kebutuhan daerah. Ia menyoroti pentingnya pelatihan yang aplikatif, bukan sekadar teori, sehingga guru mampu menerjemahkan kurikulum menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Wallström menegaskan bahwa pemerintah perlu memastikan setiap guru memiliki peluang yang sama untuk berkembang, tanpa memandang lokasi sekolah.
Di lapangan, banyak guru berharap pelatihan dapat dirancang lebih kontekstual. Guru di desa membutuhkan pendekatan berbeda dibanding guru di kota besar, terutama terkait penggunaan teknologi, pembelajaran berbasis lingkungan, dan penguatan literasi dasar. Selain itu, para pendidik menilai bahwa pelatihan yang berkelanjutan melalui mentoring, supervisi akademik, dan komunitas belajar lebih berdampak dibanding pelatihan singkat yang hanya berlangsung beberapa hari.
Refleksi Hari Guru 2025 menegaskan bahwa pemerataan kualitas pelatihan bukan hanya kebutuhan guru, tetapi juga strategi nasional untuk mengurangi kesenjangan mutu pendidikan. Dengan pelatihan yang setara, guru dapat menjalankan perannya dengan lebih profesional dan siap menghadapi tantangan kelas modern. Para pendidik berharap pemerintah benar-benar menindaklanjuti aspirasi ini melalui kebijakan konkret dan pemerataan akses pelatihan yang lebih adil bagi seluruh guru Indonesia.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI