Guru Evaluasi Peran Ekstrakurikuler dalam membentuk Karakter
Momentum Hari Guru 2025 dimanfaatkan para pendidik di berbagai daerah untuk melakukan refleksi mengenai efektivitas kegiatan ekstrakurikuler dalam membentuk karakter siswa. Guru menilai bahwa ekstrakurikuler memiliki peran strategis, bukan hanya sebagai wadah pengembangan minat dan bakat, tetapi juga sebagai ruang pembiasaan nilai seperti kerja sama, integritas, dan tanggung jawab. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan karena perbedaan fasilitas sekolah dan keterbatasan tenaga pembina.
Banyak guru mengakui bahwa minat siswa untuk bergabung dalam ekstrakurikuler cukup tinggi, tetapi keterbatasan waktu sering menjadi penghambat. Jadwal akademik yang padat, tugas sekolah yang menumpuk, serta kurang tersedianya jadwal latihan yang fleksibel membuat sebagian siswa sulit berkomitmen. Selain itu, beberapa sekolah belum memiliki pembina yang kompeten sesuai bidang kegiatan sehingga kualitas program belum optimal.
Meskipun demikian, di sekolah-sekolah dengan dukungan manajemen yang kuat, ekstrakurikuler terbukti menjadi sarana pembinaan karakter yang efektif. Kegiatan debat, robotik, seni, pramuka, hingga olahraga membentuk kebiasaan positif seperti disiplin, sportivitas, dan kepemimpinan. Guru berharap model keberhasilan ini dapat diperluas agar lebih banyak siswa memperoleh pengalaman karakter yang utuh.
Menurut Prof. Thomas Lickona (2021) dari State University of New York, kegiatan ekstrakurikuler menyediakan “moral laboratory”ruang pembelajaran karakter yang tidak bisa sepenuhnya diwujudkan dalam pembelajaran kelas. Lickona menegaskan bahwa pengalaman nyata menghadapi tantangan, berkolaborasi dalam tim, dan mengambil keputusan etis adalah fondasi kuat pembentukan karakter.
Sementara itu, Prof. Howard Gardner (2022) dari Harvard University menambahkan bahwa ekstrakurikuler memberi kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan multiple intelligences, terutama interpersonal dan intrapersonal. Gardner menyebut bahwa karakter dapat tumbuh lebih kuat ketika siswa diberi ruang untuk menemukan peran sosial, mengelola emosi, serta mempraktikkan kepemimpinan dalam situasi nyata.
Dengan refleksi Hari Guru 2025 ini, para pendidik mendorong peningkatan dukungan kebijakan agar ekstrakurikuler dapat dikelola secara lebih profesional dan berkelanjutan. Guru berharap adanya pelatihan pembina, penyediaan fasilitas memadai, serta integrasi nilai karakter dalam setiap aktivitas. Mereka yakin bahwa ketika ekstrakurikuler dikelola dengan baik, pembentukan karakter siswa dapat berjalan lebih mendalam dan berpengaruh jangka panjang.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI