Guru dan Tantangan Cyberbullying di Sekolah Digital
Sumber: Canva Image
Ketika pembelajaran banyak dilakukan secara online, risiko cyberbullying semakin meningkat. Guru menghadapi tantangan baru untuk memantau perilaku siswa di ruang digital yang tidak selalu terlihat secara langsung. Bullying kini tidak hanya terjadi di koridor sekolah, tetapi juga lewat grup chat, komentar media sosial, hingga platform pembelajaran.
Cyberbullying seringkali lebih sulit dideteksi karena berlangsung diam-diam. Siswa yang menjadi korban terkadang tidak berani melapor, atau bahkan tidak menyadari bahwa apa yang mereka alami termasuk tindakan perundungan. Guru harus memiliki literasi digital yang cukup untuk mengenali tanda-tanda ini.
Tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menciptakan lingkungan digital yang aman. Ini bisa dilakukan dengan menetapkan aturan penggunaan platform online, edukasi tentang etika digital, dan membangun komunikasi terbuka antara guru, siswa, dan orang tua. Kurikulum Merdeka sendiri menekankan pentingnya digital citizenship sebagai kompetensi abad 21.
Guru juga perlu peka pada dinamika sosial di kelas digital. Pola interaksi bisa diamati dari cara siswa memberi komentar, merespons tugas, atau berinteraksi dalam diskusi online. Dengan pendekatan yang empatik, guru dapat mencegah konflik sebelum berkembang menjadi perundungan.
Melindungi siswa dari cyberbullying bukan tugas mudah, tetapi merupakan bagian penting dari peran guru di era teknologi. Dengan literasi digital yang kuat, guru dapat menciptakan ruang belajar digital yang aman dan sehat bagi semua.
Penulis: Danella
Editor: Firstlyta Bulan