Generasi Emas Tanpa Korupsi Dimulai dari Guru yang Berintegritas
Pendidikan karakter kini menjadi fokus utama
dalam membentuk generasi muda yang bebas dari praktik korupsi. Ahli pendidikan
menekankan bahwa fondasi integritas harus dimulai dari guru, karena mereka
bukan hanya pengajar akademik, tetapi juga teladan moral bagi siswa. Guru yang
konsisten menunjukkan kejujuran dan tanggung jawab mampu menanamkan nilai
antikorupsi sejak dini.
Prof. Sophie Dubois, pakar pendidikan
karakter dari Université Paris-Sorbonne, Prancis, pada 2025 menyatakan, “Guru
yang berintegritas bukan hanya mengajarkan teori, tetapi mencontohkan nilai
moral dalam setiap interaksi dengan siswa. Hal ini menjadi fondasi bagi
generasi yang mampu menolak perilaku curang dan koruptif.”
Dr. Henrik Johansson, ahli etika pendidikan
dari Lund University, Swedia, menambahkan bahwa keteladanan guru sangat
menentukan budaya sekolah. “Sekolah yang dipimpin oleh guru berintegritas
menumbuhkan lingkungan yang transparan, adil, dan disiplin. Siswa yang tumbuh
dalam budaya ini memiliki pemahaman moral yang kuat dan kemampuan untuk menilai
benar-salah dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Dalam praktiknya, guru dapat menerapkan
metode pembelajaran berbasis pengalaman, seperti studi kasus etika, diskusi
dilema moral, dan proyek kelompok yang menekankan nilai kejujuran. Metode ini
memungkinkan siswa mempraktikkan integritas secara langsung, bukan sekadar
menerima teori secara pasif.
Keteladanan guru juga terlihat dalam
tindakan sehari-hari, termasuk penilaian yang adil, transparansi dalam
pengelolaan kelas atau kegiatan sekolah, serta komunikasi terbuka dengan siswa.
Tindakan nyata ini mempermudah siswa meniru perilaku etis dan menjadikannya
bagian dari karakter mereka.
Dengan guru yang berintegritas sebagai
fondasi, pendidikan dapat melahirkan generasi emas yang cerdas secara akademik
sekaligus kuat moral dan etika. Langkah ini menjadi kunci untuk membangun
masyarakat yang bebas dari korupsi dan mampu menghadapi tantangan sosial serta
profesional di masa depan.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI