Gender dan Inklusi dalam Relawan Bencana: Suara yang Perlu Didengar
Isu gender dan inklusi dalam kerelawanan bencana masih perlu mendapat perhatian lebih. Relawan perempuan sering menghadapi challenges spesifik di lapangan. Kebutuhan khusus perempuan, anak, lansia, dan disabilitas harus diakomodasi. Perspektif yang beragam membuat respons bencana lebih komprehensif dan sensitif. Diversity is strength dalam upaya kemanusiaan.
Relawan perempuan memiliki peran vital yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki. Mereka dapat mengakses dan memahami kebutuhan perempuan korban dengan lebih baik. Isu-isu seperti kesehatan reproduksi dan kekerasan gender memerlukan penanganan sensitif. Pendampingan untuk ibu hamil, menyusui, dan anak-anak lebih efektif oleh relawan perempuan. Representation matters dalam membangun trust dengan korban.
Tantangan yang dihadapi relawan perempuan perlu diakui dan diatasi. Safety concerns terutama saat bertugas di area terpencil atau malam hari. Stereotype gender tentang pekerjaan fisik berat masih ada. Work-life balance lebih challenging dengan ekspektasi domestik yang masih tinggi. Akses ke leadership positions dalam organisasi relawan masih terbatas. Addressing these barriers akan meningkatkan partisipasi perempuan.
Inklusi untuk relawan dengan disabilitas masih jauh dari ideal. Asumsi bahwa orang dengan disabilitas hanya bisa menjadi korban perlu diubah. Mereka memiliki skills dan perspectives unik yang valuable. Aksesibilitas dalam pelatihan dan penugasan perlu ditingkatkan. Universal design dalam program relawan menguntungkan semua orang.
Kebijakan inklusif harus menjadi mainstream dalam organisasi relawan. Gender-sensitive policies melindungi hak dan keselamatan semua relawan. Kuota dan affirmative action dapat meningkatkan representasi kelompok underrepresented. Training tentang gender awareness dan disability inclusion wajib untuk semua. Creating safe and inclusive space adalah tanggung jawab kolektif.
Author & Editor: Nadia Anike Putri