Gadget dan Rasa Kebangsaan: Kawan atau Lawan?
Sumber: Gemini AI
Perdebatan mengenai apakah gawai (gadget) merusak atau membangun rasa kebangsaan siswa sekolah dasar terus bergulir tanpa henti di kalangan pendidik dan orang tua. Di satu sisi, gawai sering dituduh sebagai penyebab lunturnya semangat sosial, membuat anak menjadi individualis (asyik sendiri), dan lebih mengenal budaya asing daripada budaya sendiri. Namun, memosisikan gawai semata-mata sebagai "lawan" adalah pandangan yang kurang bijak dan ahistoris, mengingat teknologi adalah alat yang netral. Pedagogi kritis mengajak kita untuk melampaui dikotomi hitam-putih ini dan melihat gawai sebagai medan perjuangan baru untuk menanamkan nilai-nilai patriotisme. Gawai bisa menjadi kawan setia atau musuh berbahaya, tergantung pada siapa yang memegang kendali dan bagaimana narasi dibangun di dalamnya.
Sebagai "kawan", gawai menawarkan akses tak terbatas terhadap kekayaan pengetahuan tentang Indonesia yang sebelumnya sulit dijangkau oleh buku teks konvensional. Melalui aplikasi peta digital, siswa di Jawa bisa "berkeliling" melihat keindahan Raja Ampat atau Danau Toba secara visual, menumbuhkan rasa kagum dan cinta pada tanah airnya. Platform berbagi video memungkinkan siswa belajar tarian daerah dari tutorial daring atau mendengarkan lagu-lagu nasional dengan aransemen orkestra yang megah. Dalam konteks ini, gawai berfungsi sebagai jendela nusantara yang mendekatkan jarak geografis dan emosional antar-anak bangsa. Teknologi mendemokratisasi akses terhadap kebudayaan nasional.
Namun, potensi gawai sebagai "lawan" juga nyata jika penggunaannya tidak didampingi dengan edukasi yang tepat. Algoritma yang adiktif bisa membuat siswa abai terhadap lingkungan sekitar, melupakan kewajiban belajar, dan kehilangan kepekaan sosial terhadap teman di sebelahnya. Rasa kebangsaan yang berbasis pada gotong royong dan interaksi tatap muka bisa tergerus oleh interaksi maya yang dangkal dan transaksional. Guru dan orang tua memiliki peran krusial sebagai "polisi tidur" yang mengatur lalu lintas penggunaan gawai, memastikan ada keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata. Detoks digital atau jam bebas gawai perlu diterapkan untuk mengembalikan koneksi manusiawi.
Strategi pedagogis yang tepat adalah melakukan "infiltrasi positif", yaitu menggunakan gawai sebagai alat untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermuatan kebangsaan. Guru bisa memberikan tugas membuat video pendek tentang pahlawan lokal, wawancara dengan veteran, atau kampanye cinta produk dalam negeri menggunakan aplikasi desain di gawai siswa. Dengan cara ini, gawai diubah fungsinya dari sekadar alat hiburan pasif menjadi alat produksi konten yang edukatif dan nasionalis. Siswa merasakan pengalaman bahwa mencintai negara bisa dilakukan dengan cara yang seru, modern, dan relevan dengan hobi mereka. Kreativitas menjadi jembatan antara teknologi dan ideologi.
Kesimpulannya, gawai dan rasa kebangsaan tidak harus saling menegasikan, tetapi bisa saling menguatkan jika dikelola dengan kecerdasan pedagogis. Kita tidak mungkin mencabut gawai dari tangan Gen Alpha, maka yang harus kita lakukan adalah menanamkan "software" kebangsaan di dalam hati dan pikiran mereka. Biarkan jari-jari mereka menari di atas layar, tetapi pastikan tarian itu menyuarakan irama cinta Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan teknologi sebagai sayap untuk menerbangkan garuda lebih tinggi, bukan sangkar yang mengurungnya.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita