Etika Bertamu dan Sopan Santun: Belajar dari Perjalanan Langit Rasulullah
Peristiwa Isra Mi’raj tidak hanya mengandung pesan teologis, tetapi juga memuat pelajaran etika dan sopan santun yang sangat luar biasa untuk diajarkan kepada siswa sekolah dasar. Dalam perjalanannya melintasi tujuh lapis langit, Rasulullah SAW menunjukkan adab yang sangat mulia saat bertemu dengan para nabi terdahulu dan saat menghadap Allah SWT. Pelajaran tentang etika bertamu, memberikan salam, dan menghormati tuan rumah adalah materi pendidikan karakter praktis yang dapat langsung diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru dapat menjelaskan bagaimana Rasulullah selalu meminta izin melalui malaikat Jibril di setiap pintu langit, yang menunjukkan pentingnya prosedur dan tata krama dalam pergaulan sosial. Menanamkan adab sejak dini adalah kunci utama untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang saling menghargai dan penuh dengan keharmonisan antar sesama. Etika adalah perhiasan bagi ilmu pengetahuan, dan tanpa sopan santun, kecerdasan seorang siswa akan kehilangan maknanya di hadapan masyarakat.
Sopan santun yang ditunjukkan oleh Rasulullah selama peristiwa Isra Mi’raj mencerminkan kematangan jiwa dan kebersihan hati seorang hamba di hadapan Sang Pencipta dan makhluk-Nya. Di sekolah dasar, guru bisa mengajarkan siswa untuk selalu mengucapkan salam saat memasuki ruang kelas, meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain, serta menghormati perbedaan pendapat di antara teman. Narasi perjalanan langit ini memberikan contoh bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, maka seharusnya semakin mulia pula adab dan tutur kata yang ditunjukkannya kepada orang lain. Siswa diajak untuk memahami bahwa kepintaran tidak boleh membuat mereka merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan harus membuat mereka semakin rendah hati. Pembelajaran tentang etika bertamu ke langit ini dapat dikemas dalam bentuk simulasi atau bermain peran agar siswa lebih mudah mempraktikkan nilai-nilai sopan santun secara langsung. Kesuksesan seorang siswa di masa depan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menjaga hubungan baik melalui etika yang luhur dan perilaku yang santun.
Pakar etika dan budaya, Dr. Muhammad Syukur, menekankan bahwa "Pendidikan adab harus mendahului pendidikan ilmu, karena adab adalah wadah yang akan menjaga ilmu tersebut agar bermanfaat bagi orang banyak." Beliau berpendapat bahwa kisah Isra Mi’raj adalah sumber kurikulum adab yang sangat kaya namun seringkali terlupakan oleh para pendidik yang terlalu fokus pada aspek kognitif saja. Anak-anak yang memiliki sopan santun tinggi akan lebih mudah diterima di lingkungan manapun dan memiliki jaringan pertemanan yang lebih luas dan berkualitas di masa depan. Guru di sekolah dasar memiliki tanggung jawab besar untuk menanamkan nilai-nilai kesantunan ini melalui pembiasaan kata-kata kunci seperti "tolong", "maaf", dan "terima kasih" dalam setiap interaksi kelas. Dengan meneladani Rasulullah, siswa belajar bahwa etika adalah cerminan dari iman, dan orang yang paling baik agamanya adalah yang paling baik akhlaknya terhadap sesama. Nilai-nilai ini akan menjadi kompas moral bagi siswa dalam bersosialisasi baik di dunia nyata maupun di dunia digital yang penuh dengan tantangan etika.
Selain itu, etika dalam Isra Mi’raj juga mengajarkan tentang pentingnya menjaga pandangan dan kehormatan diri di tempat yang mulia atau saat bertamu ke rumah orang lain. Rasulullah diceritakan tidak memalingkan pandangannya dari tujuan utama saat berada di surga, yang menunjukkan fokus dan disiplin diri yang sangat tinggi dalam menjaga adab di hadapan Allah. Pendidik dapat membawa nilai ini ke dalam konteks penggunaan teknologi, misalnya bagaimana siswa harus menjaga etika saat berkomunikasi di media sosial atau saat mencari informasi di internet. Sopan santun adalah bentuk penghormatan kita terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain sebagai sesama ciptaan Tuhan yang memiliki martabat. Jika siswa sudah terbiasa dengan pola pikir yang mengutamakan adab, maka lingkungan sekolah akan menjadi tempat yang sangat nyaman untuk belajar dan berkembang tanpa adanya konflik yang berarti. Peran orang tua juga sangat krusial dalam mendukung pendidikan adab ini di rumah agar terjadi sinkronisasi nilai yang konsisten bagi perkembangan karakter anak.
Mari kita jadikan keteladanan adab Rasulullah dalam peristiwa Isra Mi’raj sebagai standar moral tertinggi bagi siswa-siswi sekolah dasar kita. Pendidikan bukan hanya tentang mentransfer informasi, tetapi tentang membentuk insan kamil yang indah tutur katanya dan mulia perbuatannya di mana pun mereka berada. Mari kita bimbing anak-anak kita untuk selalu mengetuk pintu sebelum masuk, memberikan salam sebelum bicara, dan menjaga perasaan orang lain sebelum bertindak. Sopan santun adalah warisan budaya dan agama yang harus kita jaga bersama demi kelangsungan peradaban bangsa yang beradab dan religius di masa depan. Semoga dengan memahami detail etika dalam perjalanan langit ini, siswa-siswi kita tumbuh menjadi pribadi yang mempesona karena kebaikan budi pekertinya yang tulus. Mari kita terus berupaya menjadikan setiap sekolah sebagai taman adab di mana nilai-nilai Isra Mi’raj dipraktikkan dengan penuh cinta dan kesadaran setiap hari.