Digital Storytelling dalam Pembelajaran Mitigasi Bencana di Era 4.0
Era industri 4.0 menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi dengan teknologi digital, termasuk dalam cara menyampaikan materi tentang mitigasi bencana alam. Digital storytelling hadir sebagai evolusi dari metode pendongengan konvensional dengan memanfaatkan elemen multimedia seperti suara, gambar diam, video, hingga musik latar. Siswa sekolah dasar kini diajak untuk menjadi kreator konten, di mana mereka menyusun narasi pendek tentang cara menghadapi banjir atau kebakaran dalam bentuk video sederhana. Proses ini melibatkan berbagai kemampuan sekaligus, mulai dari menulis naskah, memilih visual yang tepat, hingga mengedit video menggunakan aplikasi yang ramah anak. Melalui narasi digital, pesan mengenai keselamatan tidak hanya berhenti di telinga siswa, tetapi juga terekam dalam bentuk karya yang bisa dibagikan ke platform media sosial sekolah. Hal ini menciptakan rasa bangga pada diri siswa karena mereka merasa berkontribusi dalam mengedukasi masyarakat luas melalui teknologi yang mereka kuasai.
Kekuatan utama dari digital storytelling adalah kemampuannya untuk melakukan personalisasi materi sesuai dengan konteks lokal daerah masing-masing siswa. Siswa di daerah rawan gunung meletus akan membuat cerita digital yang berbeda dengan siswa yang tinggal di daerah rawan kekeringan atau kebakaran hutan. Fleksibilitas ini membuat pembelajaran menjadi sangat kontekstual dan bermakna bagi kehidupan nyata siswa di luar lingkungan sekolah dasar. Guru berperan sebagai kurator yang memberikan arahan agar informasi yang disampaikan dalam video tetap akurat secara ilmiah dan tidak mengandung hoaks. Selain itu, penggunaan teknologi ini juga melatih literasi digital siswa sejak dini, yang merupakan keterampilan krusial di abad ke-21. Kolaborasi antar siswa dalam satu proyek digital meningkatkan kemampuan komunikasi dan manajemen proyek yang akan berguna di masa depan mereka. Digitalisasi pendidikan bencana pun menjadi langkah strategis untuk menjangkau generasi yang lebih luas dan lebih tech-savvy secara sistematis.
Seorang ahli media pembelajaran, Ibu Sari Wahyuni, berpendapat bahwa narasi digital memiliki daya pikat yang jauh lebih kuat untuk mempertahankan atensi anak di tengah gempuran informasi saat ini. Beliau menekankan, "Digital storytelling memungkinkan anak untuk mengekspresikan pemahaman mereka tentang bencana dengan cara yang kreatif, sehingga proses belajar menjadi aktivitas yang sangat memberdayakan." Hal ini sejalan dengan filosofi pendidikan modern yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajar yang aktif dan bukan sekadar objek penerima informasi. Dengan membuat cerita digital sendiri, siswa secara tidak sadar sedang melakukan riset mendalam mengenai topik bencana yang mereka angkat dalam karyanya. Hasilnya adalah sebuah pemahaman yang tuntas dan menyeluruh karena mereka harus menjelaskan kembali konsep tersebut kepada audiens lewat karya kreatif. Transformasi metode ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi sekutu terbaik dalam membangun ketangguhan bangsa menghadapi tantangan geologis Indonesia.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita