Dari Trauma ke Aksi: Kisah Relawan Muda Korban Bencana
Banyak relawan muda yang kini aktif dulunya adalah korban bencana. Pengalaman traumatis menjadi titik balik yang mengubah hidup mereka. Dari penerima bantuan, mereka bertransformasi menjadi pemberi bantuan. Empati yang mendalam membuat mereka memahami apa yang dibutuhkan korban. Kisah mereka menjadi inspirasi bahwa dari luka, dapat tumbuh kekuatan.
Gempa Yogyakarta 2006, tsunami Aceh 2004, dan gempa Lombok 2018 melahirkan banyak relawan muda. Mereka yang kehilangan segalanya memilih untuk bangkit dengan cara berbeda. Alih-alih terpuruk, mereka memutuskan membantu orang lain yang mengalami hal serupa. Pengalaman pribadi memberi mereka perspektif unik dalam pendampingan korban. Recovery journey mereka sendiri menjadi bekal berharga dalam membantu orang lain.
Proses healing melalui volunteering terbukti efektif secara psikologis. Membantu orang lain memberikan sense of purpose dan meaning. Mereka menemukan kekuatan dalam kerentanan dan harapan di tengah puing. Berbagi cerita dengan sesama survivor menciptakan ikatan yang kuat. Komunitas support ini menjadi ruang aman untuk saling menguatkan.
Kredibilitas mereka sebagai survivor memberikan trust yang berbeda dari korban. Ketika mereka berkata "saya mengerti apa yang kamu rasakan", itu bukan sekadar empati kosong. Mereka benar-benar telah melewati jalan yang sama. Pendampingan psikososial yang mereka berikan lebih autentik dan menyentuh. Presence mereka sendiri adalah bukti hidup bahwa recovery adalah mungkin.
Transformasi dari victim menjadi volunteer adalah perjalanan yang tidak mudah. Butuh waktu, dukungan profesional, dan komunitas yang solid. Namun, ketika transformasi itu terjadi, dampaknya luar biasa powerful. Mereka tidak hanya sembuh, tetapi juga menjadi healers bagi orang lain. Siklus positif ini menciptakan generasi tangguh yang lahir dari adversity.
Author & Editor: Nadia Anike Putri