Dampak Perubahan Iklim terhadap Produksi Kakao di Sulawesi
Sumber: Gemini
AI
Pulau Sulawesi sebagai sentra produksi kakao terbesar di Indonesia kini
menghadapi tantangan serius akibat iklim. Suhu udara yang terlalu
panas dapat menyebabkan bunga kakao gugur sebelum berkembang menjadi buah
matang. Selain itu, kelembapan yang tinggi saat musim hujan tidak menentu
memicu pertumbuhan jamur pada buah. Petani mulai mengeluhkan penurunan kualitas
biji kakao yang dihasilkan karena ukuran buah yang mengecil. Kondisi ini
mengancam posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao utama di pasar
dunia.
Hama penggerek buah kakao juga lebih cepat berkembang biak pada suhu udara
yang terasa lebih hangat. Petani terpaksa meningkatkan frekuensi pemeliharaan
kebun yang tentu menambah biaya produksi secara signifikan setiap bulan. Banyak
lahan perkebunan kakao rakyat yang kini beralih fungsi menjadi lahan kelapa
sawit atau jagung. Peralihan komoditas ini dilakukan petani karena kakao
dianggap sudah tidak lagi menguntungkan secara ekonomi harian. Keberlangsungan
industri cokelat nasional sangat bergantung pada daya tahan para petani kakao
di lapangan.
Pemerintah melalui kementerian pertanian terus melakukan riset untuk
menemukan varietas kakao yang tahan panas. Bibit unggul hasil riset ini mulai
dibagikan secara gratis kepada kelompok tani di wilayah terdampak. Selain
bibit, sistem budidaya dengan menanam pohon pelindung kembali ditekankan untuk
menjaga suhu tanah. Pohon pelindung seperti kelapa atau petai cina berfungsi
untuk memecah panas matahari secara langsung. Adaptasi teknik budidaya adalah
langkah nyata untuk mempertahankan produktivitas lahan kakao milik rakyat kita.
Edukasi mengenai pasca panen yang baik juga diberikan agar kualitas biji
kakao tetap terjaga. Proses fermentasi dan pengeringan harus dilakukan dengan
benar meskipun kondisi cuaca sedang sering turun hujan. Pembangunan fasilitas
pengeringan mekanis bertenaga surya menjadi solusi bagi kelompok tani saat
musim basah. Dengan kualitas yang baik, biji kakao tetap dapat dijual dengan
harga yang kompetitif di pasar. Kesejahteraan petani adalah kunci utama agar
mereka tetap mau menanam kakao di masa depan.
Perubahan iklim mengharuskan adanya kolaborasi yang kuat antara industri cokelat dan para petani kecil. Perusahaan besar diharapkan dapat memberikan pendampingan serta jaminan harga yang adil bagi hasil panen petani. Dukungan terhadap praktik pertanian berkelanjutan akan memberikan nilai tambah bagi produk cokelat asal Indonesia. Kita harus bangga dengan produk lokal dan turut menjaga kelestarian lingkungan perkebunan kakao kita. Mari kita bergerak bersama untuk menyelamatkan industri kakao nusantara dari ancaman krisis iklim.