Belajar dari Jepang: Bagaimana Sekolah Dasar di Sana Menghadapi Gempa
Sumber:
Gemini AI
Jepang dikenal
sebagai negara yang sangat siap menghadapi gempa bumi. Kondisi geografis yang
mirip dengan Indonesia membuat Jepang menjadi contoh penting dalam pengelolaan
risiko bencana, khususnya di sektor pendidikan. Sekolah dasar di Jepang tidak
hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga sebagai pusat
pembelajaran kesiapsiagaan bencana. Pengalaman panjang menghadapi gempa
menjadikan pendidikan kebencanaan bagian tak terpisahkan dari sistem sekolah.
Salah satu
keunggulan Jepang adalah integrasi kesiapsiagaan bencana dalam kurikulum sejak
usia dini. Anak-anak sekolah dasar diajarkan tentang gempa melalui pendekatan
yang sederhana, berulang, dan kontekstual. Mereka mengenal prosedur “drop,
cover, and hold”, memahami fungsi helm pelindung, serta terbiasa mengikuti
instruksi guru saat simulasi. Pengetahuan ini tidak diajarkan secara teoritis
semata, melainkan dilatih secara rutin hingga menjadi refleks.
Selain kurikulum,
infrastruktur sekolah di Jepang dirancang dengan standar tahan gempa yang
ketat. Bangunan sekolah diperkuat secara struktural untuk meminimalkan risiko
runtuh. Perabot kelas dirancang agar tidak mudah roboh, dan jalur evakuasi
diberi penanda yang jelas. Sekolah juga dilengkapi perlengkapan darurat seperti
makanan, air, selimut, dan kotak P3K. Kesiapan fisik ini memberikan rasa aman
bagi siswa dan orang tua.
Latihan evakuasi
di sekolah dasar Jepang dilakukan secara berkala dan realistis. Simulasi tidak
selalu diberi tahu sebelumnya agar siswa terbiasa bereaksi spontan namun
terarah. Setelah simulasi, guru mengajak siswa berdiskusi tentang apa yang
mereka rasakan dan pelajari. Proses refleksi ini membantu anak memahami bahwa
rasa takut adalah hal wajar, tetapi dapat dikendalikan dengan pengetahuan dan
latihan.
Hal penting lain
yang dapat dipelajari dari Jepang adalah keterlibatan komunitas. Orang tua,
pemerintah lokal, dan relawan terlibat aktif dalam kesiapsiagaan sekolah.
Sekolah sering berfungsi sebagai shelter sementara, sehingga siswa juga belajar
bagaimana berbagi ruang dan sumber daya saat darurat. Sinergi ini membuat
sekolah menjadi pusat ketahanan komunitas.
Dari Jepang,
Indonesia dapat belajar bahwa kesiapsiagaan bukan soal kecanggihan teknologi
semata, melainkan konsistensi pendidikan dan budaya aman. Dengan mengadaptasi
pendekatan Jepang sesuai konteks lokal, sekolah di Indonesia dapat menjadi
ruang belajar yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh
menghadapi bencana.
Editor: Firstlyta
Bulan