Belajar dari Cara Rasulullah Menyampaikan Kabar Isra
Salah satu tantangan
terbesar yang dihadapi Nabi Muhammad SAW sepulang dari Mi'raj adalah bagaimana
menyampaikan pengalaman yang tidak masuk akal tersebut kepada publik yang
skeptis dan cenderung memusuhi. Dalam konteks ini, kita bisa belajar banyak
tentang etika komunikasi dan strategi penyampaian pesan di tengah masyarakat
yang heterogen. Nabi tidak menyampaikan berita tersebut dengan cara yang
provokatif, melainkan dengan ketenangan dan kejujuran meskipun beliau tahu
risiko dikucilkan atau dianggap gila oleh kaum kafir Quraisy. Kemampuan untuk
mengelola pesan di tengah situasi krisis merupakan keterampilan krusial yang
harus dimiliki oleh mahasiswa di era banjir informasi saat ini.
Di era media sosial,
seringkali kita terjebak dalam fenomena post-truth, di mana kebenaran
dikalahkan oleh emosi dan keyakinan pribadi. Cara Nabi menyikapi keraguan
masyarakat Makkah dengan memberikan bukti-bukti empiris—seperti rincian kafilah
dagang yang beliau temui di jalan—menunjukkan bahwa argumen yang kuat harus
didukung oleh data dan fakta yang akurat. Mahasiswa harus mencontoh integritas
komunikatif ini dengan tidak mudah menyebarkan berita bohong (hoax) atau
informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Kejujuran dalam menyampaikan
sesuatu, sepahit apapun risikonya, adalah nilai fundamental yang dibawa oleh
Rasulullah dalam peristiwa Isra Mi'raj.
Selain itu, cara Abu
Bakar merespons kabar tersebut memberikan pelajaran tentang pentingnya critical
trust atau kepercayaan yang berbasis pada rekam jejak. Abu Bakar tidak
langsung percaya karena berita itu sendiri, tetapi karena ia tahu siapa yang
menyampaikannya. Hal ini mengajarkan kita tentang pentingnya membangun
kredibilitas diri atau personal branding yang berbasis pada integritas. Sebagai
mahasiswa, di manapun kita berada, ucapan kita harus dapat
dipertanggungjawabkan. Integritas inilah yang akan menjadi modal sosial
terbesar kita di masa depan, melebihi gelar akademik atau sertifikat kompetensi
apapun yang kita miliki saat ini.
Pelajaran lain dari
komunikasi pasca-Isra Mi'raj adalah mengenai segmentasi audiens. Nabi
menyampaikan pesan yang berbeda tingkat kedalamannya kepada mereka yang sudah
beriman kuat dan mereka yang masih ragu atau menentang. Hal ini dalam ilmu
komunikasi dikenal sebagai kemampuan adaptasi pesan terhadap khalayak. Sebagai
intelektual, kita harus mampu menerjemahkan gagasan-gagasan besar menjadi
bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam tanpa mengurangi esensi dari
gagasan tersebut. Jangan sampai kecerdasan akademik membuat kita membangun
menara gading yang menjauhkan kita dari realitas sosial di sekitar kita.
Terakhir, mari kita
jadikan momentum Isra Mi'raj untuk memperbaiki cara kita berinteraksi di ruang
digital. Jika Nabi menggunakan lisannya untuk membawa kabar gembira dan
peringatan dengan penuh adab, maka sudah sepatutnya kita menggunakan jempol
kita di media sosial untuk menyebarkan narasi-narasi yang menyejukkan dan
edukatif. Hindarilah perdebatan kusir yang tidak produktif dan berfokuslah pada
penyampaian nilai-nilai kebenaran yang dapat membawa kemaslahatan bagi orang
banyak. Dengan meneladani pola komunikasi profetik, kita dapat membangun iklim
diskusi yang lebih sehat, bermartabat, dan mencerahkan di lingkungan kampus
maupun masyarakat luas.
Editor : Ihza Latifatun
Ni’mah