Bagaimana Guru Menghadapi Fenomena ‘Hyper-Connected Students’ di Era Digital?
Sumber: Canva Image
Generasi siswa hari ini tumbuh dalam lingkungan yang serba terkoneksi media sosial, permainan daring, hiburan digital, hingga informasi global yang masuk tanpa henti. Guru menghadapi tantangan baru: bagaimana mengajar siswa yang perhatiannya terbagi ke banyak arah sekaligus. Fenomena ini membuat kelas menjadi lebih dinamis, tetapi juga lebih menantang.
Guru harus memahami pola pikir siswa yang sudah terbiasa dengan kecepatan dan stimulasi tinggi dari dunia digital. Mereka cenderung cepat bosan dengan metode tradisional karena tidak menawarkan ritme yang sama. Maka guru dituntut menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, bervariasi, dan relevan dengan dunia mereka.
Namun, bukan berarti guru harus selalu menggunakan teknologi. Justru strategi penting adalah mengajarkan siswa bagaimana mengelola fokus, memahami jeda, dan merasakan kehadiran nyata dalam proses belajar. Guru menjadi pemandu dalam membantu siswa menemukan keseimbangan antara dunia digital dan dunia nyata.
Beberapa guru menggunakan pendekatan mindfulness sederhana untuk membantu siswa kembali fokus. Ada pula yang membuat aturan digital bersama, bukan sebagai larangan, tetapi sebagai kesepakatan pembelajaran sehat. Ketika siswa dilibatkan dalam membuat aturan, mereka lebih mudah mematuhinya.
Guru juga menjadi figur yang mengajarkan etika digital. Di dunia hyper-connected, informasi berseliweran tanpa filter. Guru mengajarkan bagaimana memilih sumber yang kredibel, bagaimana berkomunikasi sopan di ruang digital, dan bagaimana menjaga privasi. Pendidikan karakter kini meluas hingga ke layar.
Di sisi lain, guru perlu membangun hubungan yang kuat dengan siswa. Siswa yang merasa dihargai dan dipahami lebih mudah mengatur penggunaan digitalnya di kelas. Interaksi manusia tetap menjadi kebutuhan dasar yang tidak bisa digantikan teknologi.
Menghadapi siswa hyper-connected memang melelahkan, tetapi juga membuka peluang besar. Guru dapat menjadikan energi digital siswa sebagai kekuatan untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan berdampak.
Penulis: Danella Putri
Editor: Firstlyta Bulan