Asta Cita Pendidikan Di Sekolah Dasar: Antara Idealisme Dan Realitas
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menyiapkan khalifah Allah di muka bumi. Pendidikan juga berperan sebagai wahana membangun manusia berakhlak, berbudi pekerti baik, dan berkompeten, sebagai sarana mobilitas sosial dalam mengatasi kemiskinan, serta sebagai penguatan sumber daya manusia pembangunan Indonesia agar dapat berkontribusi di panggung dunia. Peran tersebut tentunya juga harus didukung oleh pemerintah agar pemimpin yang akan lahir pada 20 tahun yang akan datang adalah pemimpin yang berkualitas, baik secara fisik, emosional, intelektual, spiritual, dan finansial. Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan hendaklah orang-orang merasa cemas seandainya meninggalkan keturunan yang lemah, yang mereka khawatir atas mereka. Maka, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang tepat.” (Q.S. An Nisa: 9). Peran pendidikan tersebut secara eksplisit telah terwadahi dalam salah satu dari delapan misi (Asta Cita) yang menjadi visi dari Pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029.

Sumber foto: republika.co.id
Pendidikan
merupakan landasan bagi pembentukan karakter dan kepemimpinan yang berkualitas
di masa depan. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan perhatian yang
serius terhadap sistem pendidikan agar mampu mencetak pemimpin yang tangguh dan
bertanggung jawab. Pemimpin yang memiliki kualitas baik secara fisik,
emosional, intelektual, spiritual, dan finansial akan mampu membawa kemajuan
bagi negara dan rakyatnya. Dengan demikian, pendidikan memiliki peran yang
sangat vital dalam mempersiapkan generasi penerus yang siap mengemban tugas
kepemimpinan dengan baik.
Asta
Cita Pendidikan di Sekolah Dasar (SD) relevan dengan visi pendidikan nasional
menuju Indonesia Emas 2045 yang diformulasikan melalui kebijakan yang
mengintegrasikan pendekatan dalam pendidikan dan pembangunan nasional sebagai
strategi untuk mencapai transformasi sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.
Namun, terdapat tantangan signifikan dalam merealisasikan idealisme tersebut di
lapangan. Asta Cita yang paling relevan dengan pendidikan dasar, Asta Cita
ke-4, yakni memperkuat pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi,
pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan
peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.
Visi
Asta Cita sangat relevan dengan tujuan pendidikan dasar karena berfokus pada
investasi fundamental terhadap sumber daya manusia sejak usia dini. Dalam hal
pembangunan sumber daya manusia dibutuhkan fondasi pembentukan karakter,
literasi, dan numerasi dasar melalui Program Wajib Belajar 13 Tahun dan
peningkatan kualifikasi dan kesejahteraan guru. Dalam hal sains dan teknologi
dibutuhkan pengenalan literasi digital dasar dan pembelajaran berbasis
teknologi melalui program pembangunan infrastruktur digital di daerah 3T dan
dorongan digitalisasi pembelajaran di sekolah. Dalam hal kesehatan dibutuhkan kesadaran
tentang pentingnya gizi dan kesehatan sebagai modal belajar melalui Program
Makanan Bergizi Gratis bagi siswa sebagai langkah strategis untuk mengatasi
kekurangan gizi dan meningkatkan fokus belajar. Selain itu, dibutuhkan
pemerataan dengan memastikan semua anak mendapatkan akses pendidikan yang
bermutu melalui Program Inisiatif Sekolah Rakyat untuk masyarakat marginal
dan Program Perbaikan Sarana dan Prasarana Sekolah.
Meskipun
idealisme Asta Cita sangat komprehensif, implementasinya di tingkat SD menghadapi
beberapa tantangan utama, yakni mutu dan infrastruktur, kualitas dan
kesejahteraan guru, implementasi program kesehatan dan gizi, serta transformasi
pembelajaran. Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, diperlukan kerja
sama antara pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat.
Dalam
hal mutu dan infrastruktur, idealnya visi pendidikan bermutu untuk semua dan
pemerataan akses, tetapi realitanya terdapat kesenjangan mutu yang tinggi
antara SD di perkotaan dan di wilayah Terpencil, Terdepan, dan Terluar (3T).
Banyak sekolah di 3T masih menghadapi masalah sarana dan prasarana, seperti
bangunan, perpustakaan, laboratorium, serta infrastruktur digital seperti akses
internet.
Dalam
hal kualitas dan kesejahteraan guru, idealnya ada peningkatan kualifikasi,
kompetensi, dan kesejahteraan guru, tetapi realitasnya di banyak daerah,
terutama desa, masih ada guru yang berstatus non-PNS dengan kesejahteraan
minim, yang dapat memengaruhi motivasi dan kualitas pengajaran mereka. Selain
itu, upaya pengembangan kompetensi guru, terutama dalam penerapan inovasi
pembelajaran, membutuhkan pelatihan yang berkelanjutan dan merata.
Dalam
hal implementasi program kesehatan dan gizi, idealnya Program Makanan Bergizi
Gratis memiliki dampak bagi siswa, terutama untuk meningkatkan asupan gizi
anak-anak dari keluarga kurang mampu. Meskipun ada kekhawatiran terkait
anggaran dan dampak ekonominya, program ini diharapkan dapat membantu mencegah
masalah gizi seperti stunting dan memberikan manfaat jangka panjang bagi
masyarakat. Namun, realitasnya terdapat banyak tantangan, yakni memastikan
keberlanjutan program, kualitas gizi makanan yang diberikan, dan logistik di
seluruh wilayah Indonesia yang beragam secara geografis, terutama di
sekolah-sekolah terpencil.
Dalam
hal transformasi pembelajaran, idealnya pembelajaran mendalam dan pengembangan
talenta sesuai minat dan bakat, tetapi realitasnya penerapan pembelajaran yang
benar-benar aktif, kreatif, dan berorientasi pada kompetensi, seperti tuntutan
Kurikulum Merdeka, seringkali terhambat oleh beban administrasi guru dan
keterbatasan waktu untuk mendalami konsep, sehingga praktik pengajaran masih
cenderung didominasi metode tradisional yang berfokus pada transfer pengetahuan
yang semestinya bergeser menuju metode yang lebih menekankan kompetensi,
karakter, dan kreativitas siswa sebagaimana ditegaskan oleh Unesco bahwa
pendidikan harus mampu membekali peserta didik dengan kompetensi global seperti
literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan inovasi, yang menjadi kunci dalam
menghadapi tantangan abad 21.
Asta
Cita Pendidikan di SD memberikan landasan kebijakan yang kuat dan terarah,
namun fokus utama ke depan adalah akselerasi pemerataan sumber daya (guru,
fasilitas, gizi) dan penguatan implementasi kurikulum agar idealisme
pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dapat tercapai merata. Hal ini
akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang merata dan berkualitas bagi
semua siswa, tanpa terkecuali. Dengan adanya akselerasi pemerataan sumber daya
dan penguatan implementasi kurikulum, diharapkan setiap anak dapat memperoleh
pendidikan yang optimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan mereka. Dengan
demikian, visi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dapat menjadi
kenyataan dan memberikan dampak positif bagi masa depan bangsa.
Referensi
Hamka
(2021). Tafsir Al Azhar Diperkaya dengan Pendekatan Sejarah, Sosiologi,
Tasawuf, Ilmu Kalam, Sastra, dan Psikologi. Gema Insani.
Sarman,
R. (2023). Sinergi Pendidikan Inklusif dan Kewirausahaan Inovatif sebagai
Strategi Mewujudkan Visi Indonesia Emas Tahun 2045.
Septiani,
F. I., Rosiana, N., & Azzahra, A. (2024). Dampak Makan Siang Gratis pada
Kondisi Keuangan Negara dan Peningkatan Mutu Pendidikan. JUPENSAL: Jurnal
Pendidikan Universal, 1(2), 191-196.
Yusriati,
A. S., & Mardiati, I. D. M. (2025). Deep Learning dalam
Pendidikan Indonesia Strategi Transformasi Menuju Indonesia Emas. Umsu Press.
Tim PPN/Bappenas (2025). Ringkasan Eksekutif Peta Jalan Pendidikan Indonesia Tahun 2025-2045. Kementerian PPN/Bappenas.
Author: Akhmad Rozi Hapsari
Editor: Nadia Anike Putri