Apa Jadinya Jika Dunia Kehabisan Air Bersih?
Pernahkah kita membayangkan sebuah dunia di mana kita harus mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan satu liter air bersih untuk kebutuhan minum dan memasak seluruh anggota keluarga? Skenario ini bukanlah cuplikan film fiksi ilmiah masa depan, melainkan ancaman nyata yang sudah mulai dirasakan oleh banyak komunitas di berbagai belahan dunia akibat eksploitasi air yang tidak terkendali. Air bersih adalah nadi kehidupan yang jika ketersediaannya terganggu, maka seluruh sistem peradaban manusia, mulai dari kesehatan, pangan, hingga ekonomi, akan mengalami keruntuhan secara sistematis. Di Indonesia, krisis air bersih sudah mulai menghantui beberapa daerah saat musim kemarau panjang tiba, yang mengakibatkan gagal panen dan meningkatnya angka penyakit akibat sanitasi yang buruk. Sebagai pendidik di lingkungan S3 Pendidikan Dasar, kita memiliki kewajiban untuk mengajak masyarakat berpikir secara mendalam tentang konsekuensi dari ketidakpedulian kita terhadap kelestarian sumber daya air saat ini. Mengajukan pertanyaan reflektif tentang masa depan tanpa air adalah cara untuk menggugah kesadaran kolektif kita agar segera melakukan tindakan nyata untuk penghematan dan perlindungan mata air.
Dampak pertama yang paling mengerikan dari hilangnya akses terhadap air bersih adalah meledaknya wabah penyakit menular yang sangat sulit dikendalikan oleh sistem kesehatan mana pun di dunia. Tanpa air yang layak untuk mencuci tangan, mandi, dan membersihkan lingkungan, bakteri dan virus patogen akan menyebar dengan sangat cepat di tengah pemukiman warga yang padat penduduk. Anak-anak usia sekolah dasar akan menjadi kelompok yang paling menderita karena sistem imun mereka belum sekuat orang dewasa dalam menghadapi serangan penyakit yang ditularkan melalui air. Kondisi sanitasi yang buruk juga akan menyebabkan angka stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak meningkat tajam karena tubuh tidak mampu menyerap nutrisi secara optimal akibat infeksi usus yang berulang. Kehilangan air bersih berarti kehilangan benteng pertahanan utama kita terhadap berbagai ancaman kesehatan yang mematikan dan menurunkan kualitas hidup manusia secara drastis dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, menjaga kejernihan air hari ini adalah upaya kita untuk mencegah tragedi kemanusiaan yang lebih besar di masa yang akan datang.
Selain kesehatan, ketersediaan pangan dunia juga akan terhenti total karena sektor pertanian adalah konsumen air tawar terbesar yang sangat bergantung pada irigasi yang stabil dan berkelanjutan. Tanpa air yang cukup, petani tidak akan mampu mengolah lahan mereka, yang mengakibatkan kelangkaan bahan pokok dan lonjakan harga pangan yang tidak terkendali di pasar-pasar tradisional. Kelaparan akan menjadi fenomena global yang memicu ketidakstabilan sosial dan konflik antardaerah demi memperebutkan akses ke sumber-sumber air yang masih tersisa di alam. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan tidak akan mendapatkan asupan gizi yang layak, sehingga potensi intelektual generasi masa depan akan terkikis oleh kondisi kelaparan yang berkepanjangan. Krisis air bukan hanya tentang rasa haus, tetapi tentang kedaulatan pangan sebuah bangsa yang sangat menentukan keberlanjutan hidup seluruh rakyatnya tanpa terkecuali. Kita tidak boleh membiarkan skenario buruk ini terjadi hanya karena kita hari ini masih merasa memiliki air yang melimpah dan menggunakannya dengan sangat boros.
Dari sisi ekonomi dan industri, kelangkaan air akan menyebabkan banyak pabrik berhenti beroperasi dan hilangnya lapangan pekerjaan bagi jutaan orang karena hampir semua proses produksi membutuhkan air. Sektor energi juga akan terkena dampak yang sangat parah karena banyak pembangkit listrik tenaga air atau sistem pendingin pembangkit listrik lainnya sangat bergantung pada volume air yang mencukupi. Tanpa listrik dan tanpa air, dunia modern kita akan kembali ke masa kegelapan di mana produktivitas menurun tajam dan kemiskinan akan merajalela di setiap lapisan masyarakat kita. Kebutuhan hidup harian yang biasanya mudah didapatkan akan menjadi barang mewah yang hanya bisa diakses oleh segelintir orang yang memiliki kekayaan luar biasa saja. Hal ini akan memperlebar jurang kesenjangan sosial dan merusak tatanan keadilan yang selama ini kita upayakan melalui sistem pendidikan dan pembangunan nasional yang inklusif. Air adalah fondasi utama bagi kemakmuran sebuah negara, dan kehilangan air berarti kehilangan kemampuan kita untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi anak-anak kita.
Hari Lingkungan Hidup Indonesia tahun ini harus menjadi titik balik bagi kita untuk berhenti memperlakukan air sebagai komoditas yang murah dan tak terbatas nilainya di mata kita. Kita harus mulai menanamkan literasi air kepada anak-anak sejak dini agar mereka memahami bahwa setiap tetes air yang mereka gunakan adalah harta karun yang sangat berharga bagi kelangsungan hidup bumi. Mulailah melakukan langkah-langkah konservasi air di rumah, seperti menampung air hujan, menghemat air saat mandi, dan menjaga kebersihan sungai di lingkungan sekitar kita secara aktif. Kita juga perlu mendorong kebijakan perlindungan hutan dan daerah resapan air agar cadangan air tanah kita tetap terjaga bagi generasi-generasi yang akan lahir di masa depan yang akan datang. Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya air ketika keran di rumah kita sudah tidak lagi mengalirkan satu tetes pun air untuk membasahi tenggorokan kita yang sedang kehausan. Mari bertindak sekarang sebelum terlambat, demi memastikan bahwa kata "kehabisan air bersih" tidak akan pernah menjadi kenyataan dalam sejarah hidup umat manusia di bumi pertiwi.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita