Analisis Kebijakan Early Intervention: Keterlambatan Identifikasi Dini ABK di TK Berdampak pada SD
Sumber: Gemini
AI
Analisis kebijakan menunjukkan bahwa keterlambatan identifikasi dini (early
intervention) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di jenjang Pra-Sekolah (PAUD/TK)
secara signifikan berdampak pada kesulitan penyesuaian dan intervensi di
jenjang SD. Banyak ABK baru teridentifikasi setelah memasuki SD, di mana
intervensi yang optimal menjadi lebih sulit dan memakan biaya lebih tinggi.
Ketiadaan kebijakan identifikasi yang kuat di TK/PAUD menjadi masalah
struktural.
Keterlambatan ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan guru TK/PAUD dalam
screening disabilitas dan ketiadaan sistem rujukan formal dari PAUD ke layanan
diagnostik. Akibatnya, saat ABK masuk SD, guru kelas dan GPK SD harus bekerja
ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan perkembangan. Gap transisi
antar-jenjang ini sangat merugikan ABK.
Analis kebijakan mendesak pemerintah untuk memperkuat kebijakan transisi
dan identifikasi dini yang menghubungkan PAUD/TK dengan SD inklusif. Guru
PAUD/TK wajib mendapatkan pelatihan screening ABK. Selain itu, kolaborasi
antar-dinas (Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan) harus memastikan adanya
layanan diagnostik yang mudah diakses sejak anak usia dini. Intervensi yang
tepat waktu adalah kunci keberhasilan.
Kebijakan perlu mewajibkan penyusunan profil perkembangan ABK sejak di
PAUD/TK yang kemudian diserahkan ke SD. Hal ini memastikan guru SD memiliki
informasi awal yang cukup untuk menyusun IEP. Pendanaan afirmasi juga perlu
dialokasikan untuk program identifikasi dini di PAUD/TK yang menjadi feeder SD
inklusif.
Kegagalan early intervention adalah kelemahan kebijakan yang harus segera
ditangani. Kebijakan pendidikan inklusif harus dilihat sebagai sebuah sistem
berkelanjutan yang dimulai sejak usia dini, menjamin setiap anak mendapatkan
dukungan yang sesuai sebelum memasuki jenjang SD.
Author : Alifatul Hidayah
Editor
: Naela Zulianti Ashlah