Anak-Anak Bangkit Lewat Dukungan Sosial
Anak-anak
menjadi kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis setelah
bencana. Rasa takut, kehilangan, dan perubahan mendadak dalam kehidupan
sehari-hari dapat mengganggu rasa aman mereka. Dalam situasi ini, dukungan
sosial dari keluarga, sekolah, relawan, dan komunitas sekitar menjadi faktor
utama yang membantu anak-anak bangkit dan menata kembali emosi mereka.
Keluarga
berperan sebagai lingkungan pertama yang memberi rasa aman. Orang tua dan
anggota keluarga lain yang menunjukkan ketenangan, kasih sayang, serta
keterbukaan untuk mendengarkan cerita anak dapat mengurangi kecemasan yang
mereka rasakan. Rutinitas sederhana seperti makan bersama, berdoa, atau bermain
di waktu senggang membantu menghadirkan kembali stabilitas di tengah kondisi
yang belum sepenuhnya pulih.
Sekolah
dan relawan melengkapi peran keluarga melalui kegiatan belajar darurat,
permainan terapeutik, serta pendampingan psikososial. Guru dan pendamping
mengajak anak mengekspresikan perasaan lewat menggambar, bercerita, atau
aktivitas kelompok, sehingga emosi yang terpendam dapat tersalurkan dengan
sehat. Pendekatan ini mendorong anak untuk kembali percaya diri dan
berinteraksi dengan teman sebaya.
Di
tingkat komunitas, dukungan sosial terlihat dari upaya bersama membangun ruang
bermain sementara, menjaga keamanan lingkungan, serta menciptakan suasana yang
ramah bagi anak-anak. Keterlibatan warga memberi pesan kuat bahwa mereka
dilindungi oleh banyak orang, bukan hanya keluarga inti. Rasa kebersamaan ini
memperkuat daya lenting anak dalam menghadapi pengalaman traumatis.
Melalui dukungan sosial yang konsisten, anak-anak perlahan menemukan kembali senyum dan harapan. Proses pemulihan ini tidak hanya membantu mereka pulih dari luka batin, tetapi juga membentuk generasi yang lebih tangguh dan peduli terhadap sesama. Dari kepedulian kolektif tumbuh masa depan yang lebih cerah bagi para penyintas muda pascabencana.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita