Algoritma vs Ideologi: Tantangan Baru Pendidikan Karakter SD
Sumber: Gemini AI
Di balik layar gawai yang dipegang anak-anak kita, bekerja sebuah sistem cerdas bernama algoritma yang diam-diam membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Algoritma media sosial cenderung menyuguhkan konten yang seragam, sesuai dengan apa yang disukai dan sering dilihat pengguna, menciptakan fenomena "kamar gema" (echo chamber) atau "gelembung filter" (filter bubble). Tantangan baru bagi pendidikan karakter SD adalah ketika algoritma ini mempersempit wawasan siswa dan mengurung mereka dalam satu sudut pandang saja, yang bisa berbahaya bagi penanaman ideologi Pancasila yang inklusif. Algoritma bekerja berdasarkan popularitas dan keterlibatan, sementara ideologi bekerja berdasarkan nilai dan kebenaran; seringkali keduanya tidak sejalan.
Bahaya laten dari dominasi algoritma adalah polarisasi sejak dini, di mana anak hanya terpapar pada informasi yang membenarkan kelompoknya sendiri dan mendemonisasi kelompok lain. Jika seorang anak sekali saja mengklik video yang mengandung narasi intoleran, algoritma akan terus membanjirinya dengan video serupa, sehingga ia mengira bahwa seluruh dunia berpikir seperti itu. Pedagogi kritis harus hadir untuk memecahkan gelembung isolasi ini dengan cara menghadapkan siswa pada keragaman perspektif secara sengaja di dalam kelas. Guru harus aktif menyajikan kontra-narasi dan mengajak siswa melihat dunia dari jendela yang lebih luas, melampaui apa yang disajikan linimasa media sosial mereka. Keberagaman informasi adalah oksigen bagi demokrasi.
Selain itu, algoritma sering kali mempromosikan konten yang sensasional, dangkal, dan hedonistik karena itulah yang paling banyak mendatangkan klik. Hal ini menjadi tantangan berat bagi penanaman nilai karakter seperti kesederhanaan, ketekunan, dan kedalaman berpikir yang diajarkan di sekolah. Siswa mungkin merasa nilai-nilai sekolah tidak relevan karena berbeda jauh dengan "kehidupan enak" yang mereka lihat di layar gawai para influencer. Guru perlu mengajak siswa mendiskusikan fenomena "pencitraan" di media sosial, membongkar ilusi di balik layar, dan menemukan kembali nilai autentisitas. Siswa diajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari jumlah like, tetapi dari kualitas hubungan dan kontribusi nyata.
Pendidikan karakter di era algoritma juga menuntut guru untuk mengajarkan konsep privasi data dan kedaulatan diri di hadapan mesin. Siswa perlu tahu bahwa mereka adalah target pasar bagi perusahaan teknologi, dan data perilaku mereka sedang ditambang untuk keuntungan komersial. Kesadaran kritis ini penting agar siswa tidak diperbudak oleh teknologi, melainkan mampu mengendalikannya untuk kepentingan pengembangan diri. Patriotisme di sini bermakna menjaga kedaulatan data pribadi sebagai bagian dari keamanan nasional di ranah siber. Manusia Indonesia harus menjadi tuan atas teknologinya sendiri.
Pertarungan antara algoritma dan ideologi adalah pertarungan memperebutkan jiwa generasi penerus bangsa. Kita tidak bisa menghapus algoritma, tetapi kita bisa membekali anak-anak dengan filter ideologis yang kuat bernama Pancasila agar mereka mampu menavigasi arus informasi dengan selamat. Pendidikan karakter harus berevolusi, tidak lagi sekadar nasihat moral, tetapi juga literasi digital tingkat lanjut yang membedah cara kerja mesin. Hanya dengan pemahaman yang utuh, kita bisa memastikan bahwa teknologi tetap menjadi abdi kemanusiaan, bukan tuannya.