AKAR FILOSOFIS HARI GURU: MENGAPA GURU DIANGGAP SOSOK MULIA?
Sumber gambar: https://share.google/Jt9JfxzXMAsitgR0e
Penghormatan terhadap guru bukan hanya tradisi modern. Dalam banyak peradaban kuno, guru dipandang sebagai penjaga ilmu dan penerus peradaban. Di Yunani kuno, filsuf seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles tidak hanya dilihat sebagai pemikir, tetapi juga sebagai pembimbing moral masyarakat. Ilmu pengetahuan berkembang karena ada hubungan erat antara guru dan murid.
Di Asia, penghormatan kepada guru bahkan memiliki landasan spiritual. Dalam ajaran Konfusianisme, guru adalah salah satu tokoh paling dihormati setelah orang tua. Di India, terdapat konsep “Guru-Shishya Parampara”, sebuah hubungan suci antara pengajar dan murid yang melampaui sekadar proses belajar formal.
Bahkan dalam banyak teks keagamaan, guru dipandang sebagai penerang jalan kehidupan. Mereka membantu seseorang berpindah dari ketidaktahuan menuju pemahaman. Karena itu, profesi guru tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan, tetapi sebagai panggilan hidup.
Seiring perkembangan zaman, peran guru menjadi semakin luas. Dahulu, guru hanya mentransfer ilmu. Namun kini, guru juga berperan sebagai motivator, konselor, fasilitator, dan terkadang menjadi figur keluarga bagi murid.
Ketika teknologi berkembang pesat, sebagian orang bertanya: apakah peran guru masih penting? Jawabannya, sangat penting. Informasi memang mudah ditemukan, tetapi nilai, karakter, cara berpikir kritis, dan kebijaksanaan tidak bisa sekadar diperoleh melalui layar digital—semua itu ditanamkan melalui interaksi manusia.
Dengan kata lain, guru bukan hanya penyampai materi, tetapi penjaga nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Tanpa guru, pendidikan akan kehilangan jati dirinya dan menjadi sekadar proses memindahkan informasi tanpa makna.
Inilah alasan mengapa Hari Guru bukan sekadar ritual tahunan. Ia mengingatkan kita bahwa bangsa yang menghormati gurunya adalah bangsa yang sedang membangun peradaban.
Author: Adinda Budi Julianti
Editor: Arika Rahmania
Sumber: AI