AI dan Pembelajaran: Tantangan Etika Bagi Guru di Sekolah
Sumber: Canva Image
Kehadiran kecerdasan buatan di ruang kelas membuka peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan etika yang tidak bisa diabaikan. Guru harus memastikan bahwa penggunaan AI tidak melanggar prinsip kejujuran akademik atau membuat siswa bergantung pada teknologi secara berlebihan.
Banyak siswa kini memanfaatkan AI untuk menyelesaikan tugas dengan cepat, bahkan tanpa membaca atau memahami materi. Fenomena ini menuntut guru untuk mengajarkan etika penggunaan teknologi. Siswa perlu memahami bahwa AI bukan pengganti proses belajar, melainkan alat bantu yang harus dipakai dengan tanggung jawab.
Lembaga seperti UNICEF dan UNESCO telah menekankan pentingnya literasi AI bagi pendidik, termasuk pemahaman mengenai bias algoritma, privasi data, dan keamanan digital. Guru harus mampu menjelaskan kepada siswa bahwa tidak semua hasil AI akurat, netral, atau aman.
Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga privasi data siswa. Penggunaan aplikasi berbasis AI sering melibatkan pengumpulan data, sehingga sekolah perlu memastikan bahwa setiap platform aman dan sesuai dengan regulasi perlindungan data.
Di tengah perkembangan ini, guru juga perlu menyeimbangkan nilai kemanusiaan dalam pembelajaran. AI dapat memberikan jawaban cepat, tetapi hanya guru yang dapat memberikan sentuhan empati, motivasi, dan pembentukan karakter. Nilai-nilai inilah yang tidak boleh hilang di era digital.
Pendidikan berbasis AI akan berjalan baik ketika guru mampu mengajak siswa berdialog tentang etika teknologi, bukan sekadar cara menggunakannya. Diskusi terbuka, contoh kasus, dan refleksi bersama akan membantu siswa memahami bagaimana menggunakan teknologi dengan bijak.
Penulis: Danella
Editor: Firstlyta Bulan