7 Langkah Cepat Menuju Titik Kumpul yang Aman
Sumber:
Gemini AI
Ketika bunyi alarm
berbunyi atau terjadi insiden, setiap detik berarti namun kepanikan dapat
membuat evakuasi menjadi kacau. Oleh karena itu, memiliki panduan langkah demi
langkah yang sederhana dan mudah dihafal sangat membantu semua warga sekolah.
Langkah pertama adalah dengarkan instruksi: siswa, guru, dan staf harus
langsung berhenti melakukan aktivitas, mengecek situasi singkat di sekitar
mereka tanpa mengambil risiko, dan segera mematuhi instruksi guru atau petugas.
Suara jelas dan singkat dari pengawas meminimalkan kebingungan dan memastikan
seluruh proses berjalan lebih cepat.
Langkah kedua,
matikan sumber bahaya yang mudah dimatikan tanpa membahayakan diri, misalnya
mematikan kompor gas eksperimen atau perangkat yang sedang digunakan jika itu
aman dilakukan. Namun, jangan mencoba memadamkan api besar sendiri. Setelah
itu, segera ikuti rute evakuasi yang telah ditetapkan jalur yang sering
dilatih akan teringat lebih baik oleh siswa. Hindari membawa barang berlebih
agar tidak memperlambat proses, kecuali benda penting yang esensial untuk
keselamatan diri (misal alat bantu pernapasan jika ada). Guru yang bertanggung
jawab tiap kelas harus memastikan semua murid bergerak berurutan dan tenang.
Langkah ketiga,
gunakan pintu keluar terdekat yang aman; jangan menggunakan lift. Di area yang
ramai, berjalanlah cepat namun tertib; dorongan dan lari bisa menyebabkan jatuh
dan cedera. Jika jalur utama terhalang, gunakan jalur alternatif yang sudah dipetakan
sebelumnya. Kepala kelas atau petugas barisan harus menutup pintu kelas setelah
rombongan keluar untuk memperlambat penyebaran api atau asap. Pastikan semua
jendela yang dapat membantu ventilasi tertutup bila ada kebakaran kimia untuk
mengurangi asupan bahan berbahaya.
Langkah keempat,
di luar gedung, langsung menuju titik kumpul yang telah ditetapkan tanpa
berkumpul di dekat bangunan untuk menghindari bahaya runtuhan atau gelombang
panas. Titik kumpul harus berada pada jarak aman, jelas dari gedung, dan bisa
menampung seluruh penghuni sekolah. Setiap titik kumpul perlu dipetakan pada
rencana evakuasi sekolah dan ditandai dengan rambu yang mudah dikenali. Setiap
rombongan kelas harus duduk atau berkumpul di area yang sudah ditentukan agar
pemanggilan dan pendataan lebih mudah.
Langkah kelima,
lakukan pendataan absensi darurat secara cepat dan sistematis. Guru atau
koordinator kelas harus membawa daftar hadir untuk memastikan tidak ada siswa
yang tertinggal. Jika ada yang hilang, catat nama dan lokasi terakhir terlihat
lalu segera laporkan ke koordinator evakuasi. Jangan mengirim relawan mencari
korban sendiri di area berbahaya serahkan pencarian kepada tim penyelamat
yang terlatih. Komunikasi dengan pihak luar seperti dinas pemadam kebakaran
harus dilakukan oleh koordinator sekolah untuk menghindari informasi yang
salah.
Langkah keenam dan
ketujuh saling berkaitan: setelah pendataan, tunggu sampai semua aman dan
dapatkan informasi lanjutan dari petugas atau pihak berwenang; jika kondisinya
aman, koordinasikan pemulangan atau penjemputan siswa oleh orang tua. Selama
menunggu, pastikan siswa tetap tenang dengan kegiatan pengalihan sederhana dan
informasi jelas dari guru. Evaluasi pasca-evakuasi harus dilakukan untuk
mengecek keefektifan jalur, waktu, dan respon catat pelajaran untuk latihan
selanjutnya. Rutin mengadakan latihan evakuasi dan refleksi akan meningkatkan
kecepatan dan ketertiban saat situasi nyata terjadi.
Editor: Firstlyta
Bulan