MATEMATIKA BERJIWA PANCASILA
MATEMATIKA BERJIWA PANCASILA
Refleksi
Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 dalam Pendidikan Matematika
di
Sekolah Dasar
Oleh Prof.
Dr. Wiryanto, M.Si.
Guru Besar Bidang Pendidikan Matematika
Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya
Saat Angka Berbicara tentang Bangsa
Setiap tanggal 1 Juni, bangsa
Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum yang kita rayakan pada 1
Juni 2026 ini bukan sekadar peringatan seremonial. Tema "Pancasila
Pemersatu Bangsa Fondasi Perdamaian Dunia" yang diusung tahun ini mengajak
kita memaknai Pancasila sebagai kekuatan aktif yang perlu dihidupi di setiap
ruang kehidupan berbangsa, termasuk di dalam ruang-ruang kelas sekolah dasar.
Sebagai akademisi yang telah puluhan
tahun bergelut dengan dunia pendidikan matematika di jenjang dasar, pertanyaan
yang terus berputar di pikiran saya sederhana namun dalam: Apakah matematika
yang kita ajarkan kepada anak-anak Indonesia di sekolah dasar sudah berjiwa
Pancasila? Apakah angka, bilangan, dan operasi hitung yang kita sampaikan di
kelas sudah meresap nilai-nilai luhur yang dirumuskan para pendiri bangsa pada
1 Juni 1945?
Refleksi ini tidak lahir dari ruang
hampa. Ia lahir dari pengamatan panjang terhadap praktik pembelajaran
matematika di sekolah dasar, dari riset tentang etnomatematika dan literasi
numerasi, serta dari keyakinan bahwa matematika bukan sekadar kumpulan prosedur
komputasi. Matematika adalah cara berpikir, cara memandang dunia, dan
seharusnya, cara menghayati nilai-nilai kemanusiaan.
Pancasila dan Pendidikan: Satu Napas
Pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno
menyampaikan gagasan tentang lima dasar negara di hadapan sidang Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Lebih dari
delapan dekade kemudian, kelima sila itu tetap menjadi ruh yang seharusnya mewarnai
seluruh aspek kehidupan bangsa, termasuk pendidikan. Pasal 6 ayat (1) Standar
Kompetensi Lulusan dalam Permendikbudristek secara eksplisit menegaskan bahwa
satuan pendidikan jenjang dasar difokuskan pada penanaman karakter sesuai
nilai-nilai Pancasila serta kompetensi literasi dan numerasi peserta didik.
Pernyataan normatif ini membawa
konsekuensi epistemologis yang besar: numerasi bukan hanya soal kemampuan
berhitung, melainkan soal pembentukan karakter warga negara yang berjiwa
Pancasila. Di sinilah titik temunya. Matematika di pendidikan dasar bukan entitas
terpisah dari nilai-nilai kebangsaan. Ia adalah wahana pembentukan karakter,
wahana internalisasi keadilan, gotong royong, dan penghargaan terhadap
keberagaman.
Wiryanto dan Visi Matematika Sekolah Dasar yang
Berbudaya
Dalam perjalanan riset dan
pengembangan pembelajaran matematika di sekolah dasar yang panjang, orientasi
keilmuan saya terus bergerak menuju satu simpul: pembelajaran matematika harus
berakar pada konteks budaya dan kehidupan nyata peserta didik. Lima standar
proses pembelajaran matematika sekolah, yakni komunikasi matematis, penalaran
dan pembuktian, pemecahan masalah, koneksi matematis, dan representasi, tidak
dapat dipahami secara optimal tanpa melibatkan konteks budaya di mana anak
hidup dan bertumbuh.
Inilah mengapa pendekatan
etnomatematika memiliki tempat yang amat strategis dalam kerangka pendidikan
matematika yang berjiwa Pancasila. Etnomatematika, sebagaimana didefinisikan
D'Ambrosio, adalah studi tentang praktik, ide, dan teknik matematis yang ditemukan
dan dikembangkan oleh kelompok budaya tertentu dalam kehidupan sehari-hari
mereka. Saat seorang anak SD di Jawa belajar geometri melalui motif batik, saat
anak di Papua belajar operasi bilangan melalui sistem perhitungan sagu
tradisional, mereka tidak hanya belajar matematika. Mereka sedang belajar
menghargai identitas budayanya sendiri, sebuah ekspresi nyata dari sila ketiga:
Persatuan Indonesia (Hendriyanto et al., 2023).
Penelitian-penelitian yang telah
dilakukan menunjukkan bahwa integrasi budaya lokal ke dalam pembelajaran
matematika secara signifikan meningkatkan literasi matematis dan keterlibatan
peserta didik. Penelitian Wiryanto dan Jannah (2022) tentang pengembangan media
kartu domino hitung berbasis kode QR pada materi pecahan, misalnya, membuktikan
bahwa kontekstualisasi media pembelajaran mampu membuat konsep matematika yang
abstrak menjadi lebih mudah dipahami dan lebih bermakna bagi siswa sekolah
dasar.
Lima Sila, Lima Semangat dalam Ruang Kelas Matematika
Sila Pertama:
Ketuhanan dalam Keajaiban Matematika
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajak
kita melihat keteraturan di balik segala sesuatu. Dalam matematika, keteraturan
itu hadir dalam ‘deret Fibonacci’ yang tampak di kelopak bunga, dalam ‘simetri
rotasional’ yang mewarnai ornamen masjid dan candi, dalam konsistensi logika
yang melampaui budaya dan zaman. Mengajak peserta didik merenungkan bahwa
keindahan matematis dalam alam semesta adalah tanda kebesaran Sang Pencipta
merupakan bagian dari internalisasi sila pertama melalui pembelajaran
matematika.
Pendekatan spiritual ini tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmiah matematika. Justru, ia memperkaya
makna belajar matematika sehingga tidak berhenti pada "bagaimana
caranya" tetapi juga menyentuh "mengapa ada keteraturan ini."
Pertanyaan eksistensial di balik keteraturan matematis inilah yang membentuk
karakter religius peserta didik sekaligus membangun ketakjuban intelektual (intellectual wonder) yang esensial dalam
perkembangan matematis anak.
Sila Kedua:
Kemanusiaan dalam Ruang Belajar yang Inklusif
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
menuntut kita membangun ruang belajar matematika yang inklusif dan
berperikemanusiaan. Salah satu ironi terbesar pendidikan matematika Indonesia
adalah bagaimana mata pelajaran ini kerap menjadi alat penyaring sosial yang
tidak manusiawi: anak yang "tidak bisa matematika" dikucilkan,
dijuluki "bodoh," dan kehilangan kepercayaan dirinya.
Perspektif kemanusiaan dalam
pembelajaran matematika menuntut guru memahami bahwa setiap anak memiliki
potensi matematis yang berbeda dan setiap perbedaan itu berharga. Konsep number sense, spatial thinking, dan algebraic
thinking tidak harus dikuasai dengan cara yang seragam. Ada anak yang
berpikir secara visual, ada yang verbal, ada yang kinestetis. Ruang kelas
matematika yang berjiwa Pancasila adalah ruang yang merayakan keragaman cara
berpikir matematis ini, bukan menyeragamkannya.
Sila Ketiga:
Persatuan Melalui Etnomatematika
Praktik etnomatematika di sekolah
dasar adalah manifestasi paling konkret dari sila Persatuan Indonesia dalam
konteks pembelajaran matematika. Ketika kurikulum matematika menghargai dan
mengintegrasikan praktik-praktik matematis dari berbagai suku bangsa di
Nusantara, dari cara berhitung masyarakat Batak hingga geometri rumah adat
Toraja, dari pola anyaman masyarakat Dayak hingga sistem timbangan tradisional
Minangkabau, kita sedang membangun persatuan melalui penghargaan terhadap
keberagaman.
Hasil riset Batiibwe (2024) dalam
tinjauan literatur internasional menegaskan bahwa etnomatematika tidak hanya
meningkatkan prestasi belajar matematika, tetapi juga memperkuat identitas
budaya dan rasa percaya diri peserta didik terhadap warisan budaya mereka. Di
Indonesia, kekayaan budaya yang luar biasa itu adalah modal riset
etnomatematika yang hampir tidak habis-habisnya, sekaligus modal membangun
persatuan bangsa melalui pendidikan.
Sila Keempat:
Musyawarah dalam Pemecahan Masalah Matematis
Pembelajaran matematika yang
mengedepankan diskusi kelompok, debat matematis, dan collaborative problem posing adalah cerminan langsung dari sila
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan.
Saat peserta didik sekolah dasar berdiskusi tentang cara terbaik menyelesaikan
sebuah soal cerita, saat mereka menghargai jawaban teman yang berbeda dan
bersama-sama mencari solusi yang paling tepat, mereka sedang berlatih
berdemokrasi dalam skala kecil.
Pendekatan problem posing yang
dikembangkan dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar secara khusus
melatih anak untuk tidak hanya menjadi konsumen soal, tetapi juga produsen
pertanyaan matematis. Kemampuan merumuskan pertanyaan yang baik,
mempertimbangkan berbagai perspektif, dan menerima kritik dengan lapang dada
adalah keterampilan demokratis yang dibangun sejak dini melalui pembelajaran
matematika.
Sila Kelima:
Keadilan Sosial melalui Literasi Numerasi
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat
Indonesia adalah sila yang paling menantang untuk diwujudkan dalam konteks
pendidikan matematika. Data-data yang ada menunjukkan kesenjangan yang masih
lebar: peserta didik di daerah terpencil, anak-anak dari keluarga kurang mampu,
dan perempuan di banyak daerah masih menghadapi hambatan lebih besar dalam
mengakses pendidikan matematika yang berkualitas.
Literasi numerasi yang kuat adalah
salah satu kunci keadilan sosial di era modern. Kemampuan seseorang untuk
memahami informasi numerik, membaca data, dan membuat keputusan berdasarkan
penalaran kuantitatif secara langsung memengaruhi kemampuannya berpartisipasi
dalam kehidupan demokratis dan ekonomi modern. Riset Aini et al. (2025)
menunjukkan bahwa implementasi STEAM berbasis etnomatematika secara bersamaan
meningkatkan literasi numerasi dan memperkuat profil pelajar Pancasila,
menegaskan bahwa dua tujuan ini bukan sekadar dapat berjalan berdampingan,
melainkan saling memperkuat.
Profil Pelajar Pancasila dan Tantangan Nyata
Pendidikan Matematika
Kebijakan Profil Pelajar Pancasila
(P3) yang diintegrasikan dalam Kurikulum Merdeka memberikan kerangka yang
sangat relevan untuk mewujudkan pembelajaran matematika yang berjiwa Pancasila.
Enam dimensi Profil Pelajar Pancasila, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar
kritis, dan kreatif, sesungguhnya merupakan profil lengkap seorang pelajar
matematika yang ideal.
Bernalar kritis dan kreatif adalah
dua dimensi yang paling langsung berkaitan dengan kompetensi matematis. Namun
dimensi bergotong royong dan berkebhinekaan global justru menjadi pembeda yang
signifikan antara pembelajaran matematika yang berwawasan kebangsaan dengan
pembelajaran matematika yang hanya mengejar prestasi individual. Saat
pembelajaran matematika berbasis budaya lokal (etnomatematika) dan proyek
kolaboratif (project-based learning)
menjadi arus utama, keenam dimensi Profil Pelajar Pancasila berpeluang besar
untuk tumbuh secara integratif (Setiaputra et al., 2025).
Namun kita juga perlu jujur terhadap
tantangan yang ada. Paradoks literasi numerasi yang masih membayangi pendidikan
dasar kita, hasil PISA yang terus menempatkan Indonesia di posisi bawah rerata
internasional dalam matematika, dan lemahnya pemahaman konseptual dibandingkan
prosedural pada banyak peserta didik, adalah persoalan nyata yang tidak dapat
diselesaikan hanya dengan retorika kebangsaan. Ia membutuhkan transformasi
mendalam pada sistem pendidikan guru, kurikulum, dan penilaian.
Merayakan 1 Juni dengan Matematika yang Bermakna
Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 ini
kiranya menjadi momentum bagi seluruh insan pendidikan, khususnya mereka yang
bergerak di bidang pendidikan dasar, untuk berefleksi dan bergerak lebih nyata.
Beberapa hal konkret yang dapat kita lakukan:
Pertama,
mengintegrasikan etnomatematika secara sistematis
ke dalam kurikulum matematika SD. Bukan hanya sebagai anekdot budaya di
sela-sela pembelajaran, melainkan sebagai kerangka utama yang menghubungkan
konsep matematis dengan konteks kehidupan dan budaya peserta didik. Langkah ini
secara bersamaan memperkuat identitas budaya dan kompetensi matematis.
Kedua,
membangun ekosistem pembelajaran matematika yang
demokratis dan inklusif di setiap kelas. Guru perlu dilatih untuk mengelola
keragaman cara berpikir matematis peserta didik sebagai kekuatan, bukan
hambatan. Ruang kelas yang aman secara psikologis adalah prasyarat bagi
tumbuhnya pemikiran matematis yang kreatif dan berani.
Ketiga,
menjadikan Proyek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila (P5) sebagai wahana pembelajaran matematika yang autentik.
Proyek-proyek lintas disiplin yang berangkat dari masalah nyata di komunitas
peserta didik memberikan konteks yang bermakna bagi pembelajaran matematika
sekaligus memperkuat nilai-nilai Pancasila secara organik.
Keempat, memperkuat pendidikan guru (baik pra-jabatan maupun dalam jabatan) yang berwawasan etno-pedagogi matematika. Para calon guru dan guru di sekolah dasar perlu dibekali tidak hanya dengan kompetensi matematis, tetapi juga dengan kemampuan menggali, mengidentifikasi, dan mengintegrasikan praktik matematis dari budaya lokal ke dalam pembelajaran.
Penutup: Matematika sebagai Cinta pada Tanah Air
"Pancasila adalah
jiwa yang menyatukan seluruh perbedaan suku, agama, ras, dan golongan di
Indonesia. Keberagaman yang luar biasa ini adalah kekuatan utama kita, bukan
alasan untuk terpecah belah." (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, 2026)
Pada akhirnya, pembelajaran
matematika yang berjiwa Pancasila adalah pembelajaran yang lahir dari cinta.
Cinta pada anak didik yang berhak mendapatkan pendidikan berkualitas tanpa
diskriminasi. Cinta pada tanah air yang kaya dengan kearifan matematis dalam
tradisi-tradisi lokalnya. Cinta pada keadilan yang mendorong kita memastikan
setiap anak Indonesia, di manapun ia berada, mendapat kesempatan yang sama
untuk membangun kemampuan berpikirnya.
Di hari yang bersejarah ini, 1 Juni
2026, mari kita jadikan ruang kelas matematika di sekolah dasar sebagai
miniatur Pancasila yang hidup: ruang di mana keberagaman dihargai, akal budi
diasah, musyawarah dilatih, dan keadilan diperjuangkan. Karena pada akhirnya,
anak-anak yang hari ini belajar matematika dengan penuh semangat, dengan
konteks budaya yang kaya, dan dengan nilai-nilai kebangsaan yang tertanam secara
mendalam, adalah Indonesia masa depan yang kita impikan Bersama.
Selamat Hari Lahir Pancasila-
Matematika untuk Indonesia.
Daftar Pustaka
Aini, K., Hidayatillah, Y., AR, M. M., Bahri, S., &
Astuti, Y. P. (2025). Numeracy Literacy Skills and Pancasila Student Profiles
through the Implementation of Ethnomathematics-Based STEAM. AL-ISHLAH: Jurnal
Pendidikan, 17(1), 1-14. https://doi.org/10.35445/alishlah.v17i1.6048
Batiibwe, M. S. K. (2024). The role of ethnomathematics
in mathematics education: A systematic literature review. International Journal
of Science and Mathematics Education (SAGE), 3(1), 1-22.
https://doi.org/10.1177/27527263241300400
Hendriyanto, A., Juandi, D., Kuncoro, K. S., Fitriana,
L., Sahara, S., & Muhaimin, L. H. (2023). Promoting the Pancasila Students'
Profiles through Mathematics Education in Schools: Ethnomathematics Roles.
Jurnal Pendidikan Progresif, 13(2), 832-845.
https://doi.org/10.23960/jpp.v13.i2.202328
Machaba, F., & Dhlamini, J. (2021). Ethnomathematics
as a fundamental teaching approach. In B. Atweh et al. (Eds.), Mathematics
Teaching and Professional Learning in Sub-Sahara Africa (pp. 59-76). Springer
International Publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-030-61591-4_4
Setiaputra, F. I., Subanti, S., Usodo, B., Triyanto, T.,
Fitriana, L., & Hendriyanto, A. (2025). A Systematic Review of
Ethnomathematics Research (2019-2023): Cultural Integration in Mathematics
Teaching and Learning. Jurnal Pendidikan MIPA, 26(1), 1-18.
https://doi.org/10.23960/jpmipa/v26i1.pp1-18
Wiryanto. (2020). Proses pembelajaran matematika di
sekolah dasar di tengah pandemi COVID-19. Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil
Penelitian, 6(2), 1-12. https://doi.org/10.26740/jrpd.v6n2
Wiryanto, & Jannah, M. (2022). Pengembangan media
kartu domino hitung matematika-kode Quick Response (KOMIKA-QR) pada materi
pecahan siswa sekolah dasar. Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian
Pendidikan dan Hasil Penelitian, 8(3), 1-9. https://doi.org/10.26740/jrpd.v8n3
Penulis : Prof. Dr.
Wiryanto, M.Si.
Editor : Jauhar
Rasyad