Refleksi Hari Guru: Penguatan Soft Skills Guru
Perubahan perilaku dan pola belajar siswa Generasi Z dan Alpha membuat guru harus lebih adaptif dan fleksibel dalam berinteraksi. Kelas bukan lagi sekadar tempat transfer pengetahuan, melainkan arena interaksi yang membutuhkan kepekaan sosial. Guru perlu memahami dinamika emosi siswa, mengelola konflik, serta menciptakan suasana yang inklusif agar semua murid merasa dihargai. Tanpa soft skills yang kuat, proses pembelajaran berisiko menjadi kaku dan tidak responsif terhadap kebutuhan siswa.
Menurut Prof. Isabella Krüger (2025) dari University of Vienna, Austria, penguatan soft skills guru merupakan salah satu indikator penting dalam keberhasilan sistem pendidikan modern. Ia menegaskan bahwa negara-negara dengan prestasi belajar tinggi biasanya memiliki pelatihan guru yang berfokus pada pengembangan empati, komunikasi, dan manajemen kelas berbasis pendekatan humanis. Krüger menilai bahwa guru dengan soft skills yang baik mampu mengurangi stres siswa, meningkatkan motivasi belajar, serta menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna.
Sementara itu, Dr. Emil Johansson (2025), peneliti pendidikan dari Stockholm University, Swedia, menekankan bahwa soft skills adalah kemampuan masa depan yang paling dibutuhkan dalam dunia kerja. Ia menegaskan bahwa ketika guru mampu mempraktikkan soft skills secara konsisten di kelas, siswa secara tidak langsung belajar meniru pola interaksi positif tersebut. “Guru bukan hanya mengajar materi, tetapi juga membentuk karakter dan kemampuan sosial siswa,” ujarnya. Hal ini membuat penguatan soft skills guru menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas generasi mendatang.
Di Indonesia, banyak pelatihan guru yang mulai menambahkan modul terkait komunikasi efektif, pendekatan restoratif untuk penyelesaian konflik, keterampilan berkolaborasi, hingga pemanfaatan humor dalam pembelajaran. Namun, sejumlah guru menyampaikan bahwa pelatihan tersebut masih belum merata dan sering kali bersifat teoritis. Guru berharap pemerintah dan lembaga pendidikan dapat menyelenggarakan pelatihan yang lebih aplikatif, kontekstual, dan berkelanjutan.
Penguatan soft skills juga berkaitan erat dengan kesehatan mental pendidik. Guru dengan kemampuan manajemen stres yang baik biasanya mampu menciptakan kelas yang stabil dan kondusif. Sebaliknya, guru yang kewalahan secara emosional cenderung kesulitan menjaga kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, Hari Guru 2025 menjadi momentum untuk mempertegas pentingnya dukungan psikososial bagi pendidik, termasuk penyediaan konseling profesional dan ruang berbagi antar-guru.
Refleksi Hari Guru tahun ini menegaskan bahwa penguatan soft skills bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan mendasar untuk menjawab tantangan zaman. Dengan guru yang memiliki kemampuan interpersonal kuat, pendidikan Indonesia dapat bergerak menuju ekosistem belajar yang lebih hangat, inklusif, dan relevan bagi generasi masa depan.
Penulis: Wasis Soeprapto
Ediotor: Arika Rahmania
Sumber: AI