Dunia pendidikan kita telah lama memuja IQ (Intelligence Quotient), namun realitas kehidupan membuktikan bahwa EQ (Emotional Intelligence) sering kali menjadi penentu kesuksesan dan kebahagiaan seseorang. Pertanyaannya bagi para pendidik tingkat dasar adalah: Bagaimana cara mengajarkan sesuatu yang tidak ada di buku teks?
Kecerdasan emosional di sekolah dasar dimulai dengan validasi emosi. Guru berperan mengajarkan siswa untuk menamai apa yang mereka rasakan—apakah itu kecewa, marah, atau cemas. Alih-alih melarang siswa menangis atau marah, guru yang mengajarkan EQ akan membimbing siswa untuk mengelola perasaan tersebut. "Ibu tahu kamu kecewa karena kalah bermain, itu wajar. Tapi melempar barang bukan cara yang tepat untuk menunjukkannya."
Melatih empati juga menjadi kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang vital. Melalui kerja kelompok, penyelesaian konflik antar teman, dan diskusi kelas, guru menanamkan kemampuan untuk melihat perspektif orang lain. Ketika guru menempatkan EQ setara dengan kemampuan kognitif, mereka sedang mempersiapkan manusia-manusia masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.