Dari Relawan ke Sahabat Korban
Di
hari-hari awal pascabencana, para relawan datang sebagai penolong yang membawa
logistik, obat-obatan, dan tenaga untuk membantu evakuasi serta membuka posko
darurat. Namun seiring waktu, hubungan mereka dengan para penyintas berkembang
lebih dalam dari sekadar pemberi bantuan. Interaksi harian di dapur umum, tenda
pengungsian, dan lokasi pembersihan puing membuat relawan mengenal cerita hidup
para korban kehilangan anggota keluarga, hancurnya rumah, hingga kecemasan akan
masa depan. Dari pertemuan-pertemuan sederhana itulah tumbuh ikatan emosional
yang mengubah peran relawan menjadi sahabat yang menemani proses bangkit.
Kedekatan
ini terlihat ketika relawan tidak hanya sibuk membagi bantuan, tetapi juga
meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah warga, menemani anak-anak
bermain, atau sekadar duduk berbincang dengan para lansia di pengungsian.
Kehadiran yang konsisten memberi rasa aman dan menumbuhkan kepercayaan,
sehingga para penyintas merasa dihargai sebagai manusia, bukan sekadar penerima
bantuan. Dukungan emosional ini sering kali menjadi penopang penting bagi
kesehatan mental korban, membantu mereka mengurangi trauma dan menemukan
kembali keberanian untuk melangkah maju.
Dalam
proses pemulihan jangka menengah, relawan kerap terlibat lebih jauh sebagai
pendamping komunitas. Mereka membantu warga merencanakan pembangunan kembali
rumah, mengadakan pelatihan keterampilan, hingga menghidupkan aktivitas ekonomi
kecil yang sempat terhenti. Relasi yang terbangun membuat kerja sama berjalan
lebih cair dan partisipatif, karena warga merasa dilibatkan dan dipercaya. Dari
situ, relawan tidak lagi dipandang sebagai orang luar, melainkan bagian dari
komunitas yang sedang berjuang bersama.
Perjalanan dari relawan
menjadi sahabat korban mencerminkan esensi sejati aksi kemanusiaan: kehadiran
yang tulus, empati yang mendalam, dan komitmen untuk berjalan bersama dalam
proses pemulihan. Ikatan yang terjalin di tengah krisis sering kali bertahan
lama, bahkan setelah situasi mulai membaik. Dari kepedulian itu lahir
persahabatan, dari persahabatan tumbuh kekuatan baru yang membantu masyarakat
bangkit dengan lebih percaya diri dan penuh harapan.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita