Transformasi Pendidikan Mitigasi: Dari Hafalan Menuju Pembiasaan
Dunia pendidikan dasar di Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan besar untuk menggeser paradigma pendidikan mitigasi dari sekadar hafalan materi menuju pembiasaan perilaku yang otomatis. Selama ini, banyak siswa yang mungkin hafal definisi gempa atau tsunami, namun mereka kerap mengalami kebuntuan dan kepanikan saat peristiwa tersebut benar-benar terjadi di depan mata. Transformasi ini sangat krusial karena dalam situasi bencana, respons yang cepat dan tepat lebih ditentukan oleh memori otot dan insting dibandingkan ingatan kognitif. Pembiasaan harus dimulai dari rutinitas harian di sekolah, mulai dari cara berjalan yang tertib hingga pemahaman tentang jalur evakuasi yang dilakukan tanpa berpikir panjang. Jika mitigasi sudah menjadi "napas" di lingkungan sekolah, maka risiko jatuh korban akibat kepanikan dapat ditekan secara signifikan.
Langkah konkret untuk memulai transformasi ini adalah dengan menyisipkan latihan-latihan singkat berdurasi 5-10 menit di tengah jam pelajaran secara mendadak namun terkendali. Latihan yang tidak terjadwal ini melatih kesiapan mental siswa menghadapi ketidakpastian yang merupakan karakteristik utama dari bencana alam yang sesungguhnya. Selain simulasi fisik, pembiasaan juga dapat dilakukan melalui diskusi-diskusi ringan di kelas mengenai skenario darurat yang mungkin terjadi saat mereka sedang beraktivitas. Guru harus mampu menciptakan suasana yang mendukung agar siswa merasa nyaman melakukan latihan ini berulang kali hingga menjadi sebuah kebiasaan yang natural. Konsistensi adalah kunci utama dalam mengubah pengetahuan yang bersifat sementara menjadi keterampilan hidup yang permanen dalam diri setiap siswa sekolah dasar.
Pakar manajemen bencana, Letjen TNI (Purn.) Doni Monardo, sering mengingatkan bahwa "Kita tidak tahu kapan bencana akan datang, tetapi kita bisa tahu seberapa siap kita menghadapinya melalui latihan yang terus-menerus." Kutipan ini menekankan bahwa kesiapsiagaan adalah hasil dari proses panjang yang tidak bisa didapatkan secara instan melalui membaca buku teks di malam sebelum ujian. Pendidikan mitigasi yang efektif adalah pendidikan yang berhasil mengubah pola pikir siswa dari "apa itu bencana" menjadi "apa yang harus saya lakukan saat bencana." Transformasi ini membutuhkan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga staf pendukung di lingkungan pendidikan dasar. Dengan latihan yang disiplin, siswa akan memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi dalam menghadapi situasi krisis yang mungkin terjadi kapan saja.
Selain simulasi, transformasi ini juga melibatkan penggunaan alat peraga yang sederhana namun fungsional untuk mendukung pembiasaan siswa dalam mengenali tanda-tanda bahaya. Misalnya, pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi yang komunikatif dan menarik bagi anak-anak akan membantu mereka terbiasa mengamati arah keselamatan setiap kali memasuki ruangan baru. Sekolah juga dapat memanfaatkan teknologi sederhana seperti lonceng atau sirine khusus yang bunyinya sudah dikenal baik oleh seluruh warga sekolah sebagai tanda darurat. Pembiasaan ini juga melatih indra pendengaran dan penglihatan siswa untuk lebih peka terhadap perubahan lingkungan yang mencurigakan di sekitar mereka. Semua elemen fisik dan psikologis di sekolah harus diarahkan untuk mendukung terciptanya lingkungan yang aman dan sadar terhadap risiko bencana.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi pendidikan mitigasi akan terlihat dari bagaimana siswa mampu tetap tenang dan saling membantu saat terjadi guncangan atau ancaman lainnya. Nilai sesungguhnya dari pendidikan ini bukan terletak pada angka di rapor, melainkan pada keselamatan nyawa setiap individu saat alam menunjukkan kekuatannya. Pergeseran dari hafalan menuju pembiasaan ini adalah bentuk penghormatan kita terhadap hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan keamanan selama menuntut ilmu. Pendidik harus terus mencari cara kreatif agar pembiasaan ini tidak membosankan, melainkan menjadi aktivitas yang dinamis dan membangkitkan semangat kebersamaan. Mari kita mulai transformasi ini sekarang juga, karena dalam urusan keselamatan, tidak ada kata terlambat untuk belajar dan berlatih demi masa depan yang lebih baik.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita