Pentingnya Mendengarkan Secara Aktif bagi Generasi Alpha
Di tengah budaya "bicara" yang sangat dominan di media sosial, di mana setiap orang berlomba-lomba untuk didengar, keterampilan mendengarkan secara aktif justru seringkali menjadi hal yang langka dan terlupakan. Generasi Alpha, yang tumbuh dalam ekosistem informasi yang serba instan dan terfragmentasi, sering kali mengalami penurunan dalam rentang perhatian dan kesabaran untuk mendengarkan orang lain secara mendalam. Mendengarkan secara aktif bukan hanya sekedar diam saat orang lain bicara, melainkan sebuah proses keterlibatan kognitif dan emosional untuk memahami pesan, konteks, dan perasaan dari sang pembicara. Keterampilan ini sangat krusial karena tanpa kemampuan mendengarkan yang baik, komunikasi akan menjadi searah dan kolaborasi akan sulit untuk mencapai hasil yang maksimal di lapangan. Pendidikan dasar harus kembali memprioritaskan latihan mendengarkan sebagai bagian integral dari literasi komunikasi yang harus dikuasai siswa sebelum mereka beranjak ke jenjang yang lebih tinggi.
Melatih mendengarkan secara aktif di sekolah dasar bisa dilakukan melalui permainan-permainan sederhana yang membutuhkan fokus pendengaran yang tinggi untuk mencapai kemenangan tim. Misalnya, permainan menyampaikan pesan berantai atau meminta siswa untuk merangkum kembali apa yang baru saja disampaikan oleh temannya dalam diskusi kelompok kecil di kelas. Guru juga bisa membiasakan siswa untuk melakukan kontak mata dan memberikan respons non-verbal seperti anggukan kepala saat mendengarkan penjelasan dari orang lain di depannya. Siswa diajarkan untuk bertanya dengan kalimat yang relevan berdasarkan apa yang baru saja mereka dengar, bukan menanyakan hal yang sama secara berulang-ulang karena tidak fokus. Dengan mendengarkan secara aktif, siswa belajar menghargai waktu dan pikiran orang lain, yang merupakan dasar dari etika sosial yang sangat luhur dalam bermasyarakat. Mendengarkan adalah bentuk penghormatan tertinggi yang bisa kita berikan kepada sesama manusia dalam sebuah proses interaksi sosial yang bermakna dan berkualitas.
Pakar komunikasi, Julian Treasure, dalam salah satu ceramahnya pernah menyatakan bahwa "Mendengarkan adalah cara kita memahami dunia dan berhubungan satu sama lain; namun sayangnya, kita kehilangan kemampuan untuk mendengarkan dengan penuh kesadaran." Kutipan ini menjadi pengingat bagi para pendidik SD bahwa di balik suara bising dunia digital, anak-anak perlu diajarkan untuk kembali menemukan keheningan dan fokus untuk benar-benar menyimak informasi. Mendengarkan secara aktif membantu siswa dalam menyerap materi pelajaran dengan lebih efisien karena mereka mampu menangkap poin-poin penting yang disampaikan oleh guru secara lisan di depan kelas. Selain itu, keterampilan ini juga sangat membantu dalam menjaga kesehatan mental dan hubungan interpersonal siswa, karena mereka mampu menjadi pendengar yang baik bagi teman-temannya yang sedang bercerita. Individu yang memiliki kemampuan mendengarkan yang baik cenderung lebih disukai dalam pergaulan sosial karena mereka memberikan ruang bagi orang lain untuk merasa dihargai dan dimengerti. Inilah kunci untuk membangun harmoni di dalam kelas yang majemuk dan dinamis setiap harinya.
Integrasi mendengarkan aktif ke dalam kurikulum juga dapat dikaitkan dengan pelajaran bahasa dan literasi, di mana siswa diminta untuk menganalisis isi podcast edukasi atau wawancara singkat yang mereka dengarkan. Mereka dilatih untuk menangkap nada bicara, emosi pembicara, dan pesan tersembunyi yang mungkin tidak tersampaikan melalui kata-kata tertulis semata di buku teks mereka. Guru harus memberikan contoh nyata dengan menjadi pendengar yang aktif bagi setiap pertanyaan dan curhatan siswanya di sekolah tanpa terburu-buru untuk menyela pembicaraan mereka. Ketika anak melihat gurunya mendengarkan dengan penuh perhatian, mereka akan mendapatkan model peran yang nyata tentang bagaimana cara berkomunikasi yang beradab dan penuh dengan empati. Mendengarkan secara aktif juga melatih kesabaran dan pengendalian diri, keterampilan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi arus informasi yang sangat cepat di masa depan mereka nanti. Ini adalah literasi batin yang akan menjaga kemanusiaan mereka di tengah kepungan kecerdasan buatan yang semakin canggih dan impersonal.
Pada akhirnya, kemampuan mendengarkan secara aktif adalah investasi untuk melahirkan generasi yang lebih bijaksana dalam bertindak karena mereka terbiasa mengumpulkan informasi secara lengkap sebelum memberikan penilaian. Dunia masa depan membutuhkan lebih banyak pendengar yang baik untuk menyelesaikan berbagai konflik global yang sering kali berawal dari kegagalan dalam mendengarkan aspirasi pihak lain secara tulus. Pendidikan dasar memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga agar tradisi "menyimak" ini tidak hilang ditelan oleh kebisingan dunia digital yang sering kali hanya mengedepankan popularitas daripada substansi. Mari kita ajarkan anak-anak kita bahwa telinga mereka adalah pintu menuju pengetahuan yang luar biasa, dan hati mereka adalah wadah untuk menampung cerita-cerita hebat dari sesama manusia di sekitarnya. Dengan mendengarkan secara aktif, kita sedang menyiapkan Generasi Alpha untuk menjadi warga dunia yang lebih cerdas, lebih peka, dan lebih mampu menjalin hubungan yang bermakna bagi kemanusiaan. Mari kita mulai mendengarkan anak-anak kita hari ini dengan sepenuh hati dan jiwa kita sebagai pendidik yang penuh dengan kasih sayang.
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita