Merawat Kemanusiaan Pascabencana
Pascabencana,
upaya merawat kemanusiaan tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi
juga pada pemulihan psikologis dan sosial para penyintas. Dalam perspektif humanitarianism
dan human security, manusia diposisikan sebagai pusat dari seluruh
intervensi pemulihan, bukan sekadar objek bantuan. Pendekatan ini sejalan
dengan teori needs hierarchy dari Abraham Maslow, yang menekankan bahwa
setelah kebutuhan dasar seperti pangan, air, dan tempat tinggal terpenuhi,
manusia membutuhkan rasa aman, dukungan sosial, dan penghargaan diri agar mampu
kembali berfungsi secara optimal dalam kehidupan sehari-hari.
Dari
sudut pandang sosiologi bencana, teori social capital yang dikemukakan
oleh Robert Putnam menjelaskan bahwa jaringan kepercayaan, norma gotong royong,
dan partisipasi komunitas memainkan peran penting dalam proses pemulihan.
Pascabencana, hubungan antarwarga, solidaritas lintas kelompok, serta kerja
sama antara masyarakat dan lembaga formal menjadi modal sosial yang mempercepat
distribusi bantuan dan memperkuat ketahanan komunitas. Semakin kuat ikatan
sosial yang dimiliki suatu wilayah, semakin besar pula kapasitas masyarakat
untuk bangkit dari krisis.
Dalam
ranah psikologi, konsep psychological first aid (PFA) dan teori
resiliensi menegaskan pentingnya dukungan emosional awal bagi korban bencana.
PFA berfokus pada menciptakan rasa aman, mendengarkan secara empatik, serta
menghubungkan penyintas dengan sumber bantuan yang relevan. Sementara itu,
teori resiliensi menjelaskan bahwa individu dan komunitas dapat pulih dari
trauma melalui kombinasi faktor internal seperti harapan dan makna hidup serta
faktor eksternal berupa dukungan keluarga, relawan, dan institusi sosial.
Merawat kemanusiaan
pascabencana berarti mengintegrasikan pemenuhan kebutuhan dasar, penguatan
jejaring sosial, dan pendampingan psikologis dalam satu kerangka pemulihan yang
holistik. Ketika teori-teori tersebut diterjemahkan dalam praktik melalui keterlibatan
komunitas, pelayanan yang berempati, serta kebijakan yang berpihak pada korban
proses rekonstruksi tidak hanya menghasilkan bangunan yang lebih kokoh, tetapi
juga masyarakat yang lebih tangguh, inklusif, dan berdaya menghadapi tantangan
di masa depan.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita