Kisah Gotong Royong yang Menguatkan
Di
tengah puing-puing pascabencana, kisah gotong royong muncul sebagai sumber
kekuatan bagi masyarakat terdampak. Warga saling membantu mengevakuasi korban,
membersihkan reruntuhan, serta memperbaiki rumah yang masih dapat dihuni. Tanpa
memandang latar belakang, semua bergandengan tangan demi keselamatan dan
kelangsungan hidup bersama.
Gotong
royong juga tampak dalam pengelolaan dapur umum dan posko pengungsian. Ibu-ibu
menyiapkan makanan, pemuda mengatur distribusi logistik, sementara tokoh
masyarakat mengoordinasikan kebutuhan warga. Pembagian peran ini membuat
bantuan lebih teratur dan memastikan tidak ada keluarga yang terlewatkan.
Di
sela kerja fisik, warga saling menguatkan secara emosional. Mereka berbagi
cerita, menghibur anak-anak, serta mengadakan kegiatan bersama untuk mengurangi
rasa takut dan trauma. Kehadiran satu sama lain menjadi penopang batin yang
membantu masyarakat bertahan di tengah situasi sulit.
Seiring
waktu, gotong royong berkembang menjadi kerja kolektif dalam proses
rekonstruksi. Masyarakat terlibat dalam pembangunan hunian sementara, perbaikan
fasilitas umum, serta penataan lingkungan yang lebih aman. Partisipasi aktif
ini menumbuhkan rasa memiliki terhadap hasil pembangunan sekaligus mempercepat
pemulihan.
Gotong
royong juga merambah ke pemulihan ekonomi. Warga saling mendukung membuka
kembali usaha kecil, berbagi alat dan bahan, serta membentuk kelompok kerja
untuk menghidupkan mata pencaharian. Kerja sama ini membantu keluarga bangkit
secara bertahap dan mandiri.
Kisah gotong royong yang menguatkan membuktikan bahwa kekuatan terbesar masyarakat terletak pada kebersamaan. Dari solidaritas lahir ketangguhan, dari kerja bersama tumbuh harapan. Di tengah krisis, gotong royong menjadi fondasi kokoh bagi kebangkitan pascabencana.
Author: Wasis Suprapto
Editor: Alvina Fiqhiyah Ardita